Becoming Sophisticated About Risk

TRADING TIPS


TIPS : Membaca Pola Grafik

 

Pola Pembalikan Arah

i) Kepala dan Bahu

  • Pola yang paling handal dari semua pola pembalikan arah yang mencerminkan suatu puncak utama.
  • Sempurna jika harga yang sedang bergerak mempunyai 3 puncak.
  • Formasi tinggi atau pendek, mendatar atau miring, dan mempunyai bahu pada setiap sisi yang bahu kanannya lebih tinggi dari yang di sisi kiri atau sebaliknya.
  • Formasi dari kepala biasanya diikuti dengan bertambahnya volume transaksi.
  • Garis leher dapat ditarik memotong titik-titik dasar dari kedua lembah yang terletak antara ke tiga puncak tersebut.
  • Tanda kapan mulai menjual berikan pada saat garis leher menembus kebawah dengan jarak 5 persen dari harga pada titik tersebut.

ii) Formasi Titik Puncak dan Titik Dasar Ganda

  • Formasi Titik Puncak Ganda lebih di kenal sebagai “M” sedangkan Formasi Titik Ganda lebih sebagai “W”.
  • Terdapat dua puncak yang hampir sama tingginya untuk titik puncak ganda alih-alih satu puncak, dua puncak lagi yang posisinya lebih rendah masing-masing sebagai kepala dan bahu.
  • Sempurnanya Formasi Titik Puncak Ganda hanya bisa dipastikan apabila garis penopang (juga disebut garis leher)terpecah.
  • Begitu terjadi penurunan garis pada puncak kedua mencapai 5% di bawah dasar lembah yang terletak di antara dua puncak, biasanya akan diikuti penurunan grafik secara perlahan.
  • Volume perdagangan mulai mengecil pada pembentukan pola ini kemudian akan meningkat tajam menjelang penyempurnaan pola.
  • Penyempurnaan pola Titik Dasar Ganda hanya dipastikan apabila garis pertahanan telah dilampaui.
  • Volume perdagangan pada umumnya akan lebih rendah pada titik dasar kedua dibandingkan dengan titik dasar pertama, akan tetapi pergerakan naik dari titik dasar kedua untuk menguji garis pertahanan harus ditandai dengan peningkatan pada volume
  • Pada saat pembelian sudah cukup besar, harga melaju d atas harga puncak. Kejadian semacam itu biasanya berkembang menjadi trend naik baik untuk periode menengah maupun panjang.

iii) Pola Tiga Puncak dan Tiga Dasar

  • Formasi Tiga Puncak dan Tiga Dasar terbentuk setelah terjadi dua puncak dan dua dasar.
  • Formasi Tiga Puncak mirip dengan Formasi Puncak Kepala dan Bahu dengan tiga puncak yang berlainan, bedanya bahwa semua puncak tersebut sama tingginya.
  • Konfirmasi mengenai terbentuknya formasi Tiga Puncak ditandai dengan menurunnya harga dari puncak ketiga dan terpotongnya garis penopang (pada garis leher) yang ditarik secara horizontal dari palung sebelumnya.
  • Formasi Tiga Dasar mirip dengan formasi kepala dan bahu yang terbalik dengan tiga palung yang berbeda kecuali bahwa semuanya dasarnya berada pada level yang sama.
  • Konfirmasi terjadinya formasi Tiga Dasar adalah pada saat harga melampaui palung ketiga dan melampaui garis pertahanan (pada garis leher) yang ditarik dari horizontal dari punca-puncak sebelumnya.

iv) Pola Puncak dan Dasar Bulat

  • Pola Puncak Bulat adalah kurva yang secara perlahan mengarah pada trend yang naik dan kemudian berbelok arah menjadi menurun.
  • Pola Puncak Bulat mencerminkan pertarungan yang lama antara permintaan dan penawaran.
  • Volume secara perlahan menurun begitu pola terbentuk sempurna dan menaik tajam pada pasca pembentukan pola.
  • Pola Dasar Bulat adalah kurva yang membalik ke trend menurun dan kemudian berubah arah menjadi trend menaik yang prosesnya memakan waktu beberapa bulan atau lebih lama lagi. Pola ini sering dikenal sebagai pola Cekungan atau Mangkok.
  • Volume cenderung membentuk pola yang mirip sebuah piring. Konfirmasi terbentuknya pola ini ditandai dengan volume perdagangan yang jumlahnya sangat besar.

Pola Berkelanjutan

i) Segitiga Simetris

  • Pola ini netral, dibentuk oleh dua garis trend yang saling berkonvergensi; garis atas menurun dan gasis bawah naik, bertemu kemudian membentuk Apex.
  • Pola ini disebut formasi berkelanjutan karena hampir disetiap waktu proses pembentukan pola arahnya sama (naik atau turun) begitu harga mengarah pada pembentukan segitiga.
  • Ketiga harga bergerak ke arah yang berlawanan, segitiga yang terbentuk bertindak sebagai formasi balik.

ii) Segitiga Menanjak

  • Pola ini berpotensi “bullish” dan juga paling dapat diprediksi.
  • Pola ini bercirikan mendatar pada bagian atas dan naik pada garis bawahnya.
  • Pola ini mencerminkan naiknya permintaan dibandingkan dengan suplai sejalan dengan semakin naiknya harga batas bawah dan sejalan pula dengan proses pembentukan pola segitiga.

iii) Segitiga Menurun

  • Pola ini persis merupakan cermin dari pola segitiga menanjak.
  • Pola ini mencerminkan pola “bearish” karena harga batas atas menurun sejalan dengan proses pembentukan segitiga menurun.
  • Volume berkencenderungan sama seperti yang terjadi pada pola segitiga simetris dan segitiga menanjak. Posisi beli terjadi.

iv) Bendera

  • Formasi Bendera sangat sering terjadi dalam tren besa dan menengah di pasar yang mengarah “bullish”.
  • Bentuk grafik menyerupai parallelogram atau segi empat ditandai dengan garis tren paralel yang cenderung mempunyai kemiringan yang berlawanan dengan trend sedang dalam proses pembentukan.
  • Dalam tren yang menaik, bendera yang terbentuk akan mempunyai kemiringan ke bawah dan di namakan “bendera bullish”, bendera yang sedang dikibarkan, atau bendera naik.
  • Dalam tren yang menurun, bendera akan menunjukkan kemiringan yang sedikit naik dan dinamakan “bendera bearish”, bendera yang sedang diturunkan atau bendera menurun.

v) Pennants

  • Pola Pennants ini mirip dengan formasi Bendera, kecuali bahwa pola ini mengambil pola dengan cara mengkonvergensi garis-garis tren, alih-alih bentuk parallelogram.
  • Pola Pennant diwujudkan dalam bentuk segitiga simetris dan proses pembentukannya memakan waktu tidak lebih dari tiga minggu.
  • Volume jumlahnya sedikit pada saat proses pembentukan pola ini dan menjadi sangat besar pada saat pola telah sempurna terbentuk.

vi) Wedges (Irisan)

  • Formasi Wedge atau Pola Irisan ini mirip dengan pola segitiga simetris, kecuali bahwa pola ini mempunyai ciri khas berupa kemiringan yang mudah dikenali, baik kemiringan ke arah atas maupun bawah.
  • Konfirmasi mengenai telah terbentuknya dengan sempurna Pola Irisan Naik akan terjadi dalam bentuk titik pada Apex di sisi bawah yang dibarengi dengan volume perdagangan yang tinggi.

vii) Pola Empat Persegi Panjang

  • Formasi Persegi Panjang mencerminkan berhentinya tren untuk sementara waktu dimana harga bergerak ke sisi lain diantara kedua garis horisontal, juga dikenal sebagai area kongesti.
  • Volume akan menurun menuju ke Empat Persegi Panjang dan meningkat pada saat munculnya titik harga penyempurnaa pola.
  • Apabila titik harga terletak pada sisi atas untuk meneruskan tren yang terjadi sebelumnya (tren naik), hal yang demikian disebut Formasi Empat Persegi Panjang “bearish”.
  • Apabila titik harga terletak pada sisi bawah untuk meneruskan tren yang terjadi sebelumnya (tren menurun), hal yang demikian disebut Formasi Empat Persegi Panjang “bearish”.

viii) Formasi Celah

  • Celah harga adalah area di dalam grafik dimana tidak ada satu transaksi pun yang telah terjadi, pola ini terbentuk karena kekosongan amanat jual/beli atau dikarenakan oleh terlalu membanjirnya amanat jual/beli.
  • Formasi Celah yang mengarah ke atas mencerminkan pasar yang kuat, sebaliknya Celah yang mengarah ke bawah mencerminkan pasar yang lemah. Akan tetapi keduanya mencerminkan potensi kekuatan pergerakan harga yang akan menyusul kemudian.

Arah Tren

Melakukan transaksi dengan menggunakan konsep “beli selagi harga rendah dan jual pada saat harga tinggi”, atau jual pada saat harga posisi “short” tinggi dan beli pada saat posisi “long” rendah diyakini dapat mendatangkan keuntungan dari perubahan harga yang mengindikasikan sinyal beli atau sinyal jual.

Harga indeks saham yang berfluktuasi dengan gerakan kecil akan mengindikasikan harga akan mengarah pada titik-titik puncak atau titik-titik dasar selama suatu periode. Suatu tren akan ada selama harga indeks saham tersebut terus bergerak naik dan turun mengikuti berjalannya waktu.

Tren naik

Dalam tren yang menaik, pergerakan harga akan mencapai titik harga yang lebih tinggi dari gerakan naik harga yang sebelumnya dan setiap gerakan naik harga yang sebelumnya dan setiap gerakan naik akan mencapai titik harga yang lebih tinggi dari titik penurunan yang sebelumnya. Ini berarti, apabila harga indeks saham digambarkan dalam bentuk grafik dan titik dasar harga yang terjadi secara berturut-turut lebih tinggi dari titik-titik dasar sebelumnya, maka harga dikatakan mengikuti pola tren naik. Begitu terbentuk, tren naik ini mengindikasikan untuk sementara waktu, kekuatan permintaan lebih kuat dari kekuatan pasok (suplai).

Tren Menurun

Dalam tren yang menurun, setiap titik penurunan harga yang terjadi akan menempati level yang lebih rendah dari level harga yang terjadi sebelumnya dan setiap gerakan harga akan berhenti pada titik yang lebih rendah dari gerakan harga sebelumnya. Apabila grafik harga indeks saham tersebut menunjukkan bahwa harga-harga batas atas yang terjadi secara berturut-turut akan selalu lebih rendah dari harga yang terjadi sebelumnya, maka indeks harga tersebut dikatakan mengikuti tren menurun. Begitu terbentuk, tren menurun mengindikasikan bahwa untuk sementara waktu, kekuatan pasok (suplai) lebih kuat dari kekuatan permintaan. Sepanjang ketidakseimbangan ini berlanjut, tren menurun akan tetap utuh.

Masih ada tren yang lebih mudah dikenali yang terbentuk dari serangkaian titik puncak dan palung horizontal yang disebut tren menyamping.

Indikator Teknis

Rata-rata Bergerak

Rata-rata bergerak (RB) atau moving average (MA), adalah salah satu teknis indikator yang paling praktis dan paling luas dipergunakan. RB secara sederhana didefinisikan sebagai rata-rata nilai dari harga indeks saham selama suatu periode. Apabila melakukan penghitungan rata-rata bergerak, sebagai indikator tren susulan, rentang waktu harus ditetapkan untuk menghitung harga rata-rata. Rata-rata bergerak 10 hari mencerminkan harga rata-rata selama 10 hari terakhir, sedangkan rata-rata bergerak 20 hari mencerminkan harga rata-rata selama 20 hari terakhir.

Konstruksi Rata-rata Bergerak

RB yang sederhana dihitung dengan menambahkan harga-harga penutupan indeks saham berjangka untuk “n” periode yang paling akhir terjadi, dan kemudian membaginya dengan “n”. Harga penutupan mencerminkan harga yang sebenarnya selama periode tersebut. Setelah menghubungkan setiap nilai RB, garis RB akan tercipta.

Formula untuk menghitung harga RB adalah sebagai berikut:

Jadi, “n” observasi pertama dijumlah dan dibagi dengan “n” untuk mendapatkan angka rata-rata bergerak yang pertama. Observasi pertama dalam serangkaian kumpulan data kemudian dihilangkan, dan observasi n + 1 dimasukkan, yang membentuk angka rata-rata baru untuk periode berikutnya. Sebagai contoh, nilai tren untuk periode yang menggunakan 5 periode rata-rata bergerak adalah sebagai berikut :

Untuk periode t + 1, adalah sebagai berikut :

Penafsiran

Tujuan dari metode garis rata-rata bergerak adalah untuk menyederhanakan fluktuasi harga penutupan harian pada indeks saham berjangka KLCH, guna memudahkan pengamatan tren yang terjadi, atau psikologi pasar yang melatarbelakangi harga-harga yang terjadi tersebut. Dengan demikian, apabila kemiringan dari garis rata-rata bergerak menunjuk ke atas, maka grafik tersebut menunjukkan bahwa para pelaku pasar mengharapkan pasar bullish. Sebaliknya, jika grafik menunjuk ke arah bawah pelaku pasar mengharapkan pasar bearish.

Osilator Stokastik

Metode stokastik adalah suatu osilator yang dipopulerkan oleh George Lane. Stokastik, adalah suatu metode untuk mengindentifikasi pembalikan arah titik-titik dalam suatu grafik, melacak hubungan dari setiap harga penutupan terhadap rentang harga batas atas dan batas bawah selama periode yang telah ditetapkan. Metode ini didasarkan atas angka rata-rata perubahan harga batas atas, batas bawah dan penutupan harian. Metode ini memasukkan beberapa langkah untuk mengeluarkan faktor gangguan pasar dan membuang sinyal-sinyal yang jelek.

Konstruksi Osilator Stokastik

Osilator Stokastik disajikan dalam bentuk grafik dua garis. Pertama, garis cepat yang disebut %K, dan kedua, garis lambat yang disebut %D, yang juga merupakan hasil perhitungan rata-rata bergerak dari %K. Garis %K biasanya dilukiskan dalam bentuk garis solid, sedangkan %D dilukiskan dalam bentuk gari bertitik-titik.

Langkah pertama untuk menghitung fungsi Stokastik, guna mendapatkan “Stokastik Kasar” atau %K adalah sebagai berikut :

Langkah kedua adalah untuk mendapatkan %D. %D didapatkan dengan cara memperhalus %K, biasanya diambil dalam periode 3 hari. Penghitungannya dapat dilakukan dalam beberapa cara, antara lain adalah sebagai berikut :

Ada dua cara untuk memplot fungsi Stokastik; cara cepat dan cara lambat. Stokastik Cepat terdiri dari dua garis, %K dan %D yang diplot dalam grafik yang sama. Grafik ini sangat sensitif karena banyaknya gerigi yang terbentuk.

Stokastik Lambat yang kurang sensitif lebih disukai oleh para pedagang. %D hasil Stokastik Cepat menjadi %K pada Stokastik Lambat dan diperhalus dengan mengulangi langkah kedua di atas untuk mendapatkan %D Stokastik Lambat. Stokastik Lambat memberi hasil yang lebih bagus dalam menyaring faktor gangguan pasar dan menghasilkan gerigi yang lebih sedikit.

Stokastik dirancang untuk menampung fluktuasi harga yang berskala antara 0-100. Garis-garis acuan ditarik pada level 20% dan 80% untuk menandai terjadinya pembelian dan penjualan yang berlebihan.

Sinyal Transaksi untuk Osilator Stokastik

Ada beberapa cara untuk menafsirkan Osilator Stokastik. Tiga metode yang populer adalah :

  • Beli pada saat Osilator (baik %K atau %D) jatuh di bawah level tertentu, kemudian naik diatas level tersebut. Jual pada saat Osilator naik di atas level tertentu, kemudian jatuh di bawah level tersebut.
  • Jual pada saat garis %K naik diatas garis %D, dan jual pada saat garis %K jatuh dibawah garis %D.
  • Jangan membeli pada saat Stokastik menunjukkan adanya pembelian yang berlebihan, dan jangan menjual posisi short pada saat terjadi penjualan berlebihan. Patokan atau rumus ini akan menyaring sebagian besar pedagang yang tidak canggih keluar pasar.

Indeks Kekuatan Relatif

Indeks Kekuatan Relatif atau Relative Strength Index (RSI) adalah nilai rata-rata perubahan osilator. RSI digunakan untuk menafsirkan kekuatan internal dan mengukur kecepatan pergerakan harga penutupan. RSI dirancang untuk memecahkan tiga buah cacat yang berkaitan dengan hilangnya data lama dalam perhitungan. Kedua, skala vertikal bagi osilator perlu ditetapkan, akan tetapi level dari osilator untuk dijadikan sinyal yang merupakan kesempatan baik untuk menjual dan membeli masih gelap. Ketiga, kalkulasi osilator memberikan data dalam jumlah yang banyak.

Kontruksi RSI

RSI mengukur kekuatan wahana perdagangan dengan memonitor perubahan-perubahan yang terjadi pada harga penutupannya. RSI ini merupakan suatu indikator yang unggul, dan tidak pernah ketinggalan.

Pola puncak dan lembah RSI tidak berubah dalam merespon terhadap panjangnya rentang waktu. Sinyal perdagangan akan menjadi mudah dikenali dengan RSI yang lebih pendek, misalnya dengan rentang tujuh atau sembilan hari. Berikut adalah langkah-langkah untuk mengkalkulasi RSI dengan rentang 7 hari untuk kontrak apa saja:

  1. Kumpulkan harga penutupan selama tujuh hari terakhir.
  2. Pilih semua hari di mana pasar menutup dengan harga penutupan yang lebih tinggi dari hari sebelumnya dan tambahkan jumlah kenaikan tersebut. Bagi jumlah dari ketujuh kenaikan tersebut. Bagi jumlah dari ketujuh kenaikan harga penutupan tersebut dengan angka 7 untuk mendapatkan nilai rata-rata perubahan kenaikan harga penutupan.
  3. Pilih semua hari dimana pasar menutup dengan harga penutupan yang lebih rendah dari sebelumnya dan tambahkan jumlah kenaikan tersebut. Bagi jumlah dari ketujuh penurunan harga penutupan tersebut dengan angka 7 untuk mendapatkan nilai rata-rata perubahan penurunan harga penutupan.
  4. Bagi angka rata-rata dengan angka rata-rata perubahan harga penutupan batas bawah untuk mendapatkan nilai Kekuatan Relatif atau Relative Strength (RS). Masukkan RS ke dalam formula di atas untuk mendapatkan nilai RSI.
  5. Ulangi proses yang sama setiap hari.

Penafsiran

RSI berfluktuasi antara 0 dan 100. Pada saat RSI mencapai suatu titik tertinggi dan kemudian menurun, maka gerakan tersebut mengindentifikasikan terciptanya suatu puncak. Pada saat RSI jatuh ke titik terbawah kemudian diikuti gerakan naik, maka gerakan tersebut mengindetifikasikan terjadinya suatu lembah dasar. Gerakan-gerakan ini terjadi pada level yang berbeda-beda di pasar-pasar yang berbeda atau bahkan gerakan yang bervariasi tersebut juga dapat terjadi di pasar yang sama, selama periode harga melambung naik (bull) maupuan periode harga menurun (bear).

Penjualan berlebihan atau pembelian berlebihan kejadiannya bervariasi dari pasar yang satu ke pasar yang lain, dan dari tahun ke tahun. Tidak ada level harga yang dapat menandai semua puncak dan lembah dasar harga.

Garis-garis rujukan mendatar harus memotong titik-titik puncak dan lembah dasar RSI. Garis-garis rujukan tersebut sering kali ditarik pada level 30 dan 70. Sejumlah pedagang menggunakan 40 dan 80 level pada saat pasar bull, atau harga sedang naik atau 20 dan 60 pada pasar bear atau harga sedang turun. Kita akan menggunakan rumus 5 persen: tarik setiap garis pada suatu level di mana RSI menggunakan waktu kurang dari 5% selama empat hingga enam bulan terakhir. Garis rujukan akan disesuaikan setiap tiga bulan sekali.

Harga penutupan mencerminkan konsensus yang paling penting selama hari yang bersangkutan, karena penyelesaian rekening pedagang tergantung pada penutupan harga tersebut. Pada waktu pasar menutup dengan harga yang lebih tinggi, maka harga-harga yang tinggi (bulls) akan mendatangkan keuntungan, sedangkan harga-harga rendah (bears) mendatangkan kerugian. Pada saat pasar menutup dengan harga rendah, maka harga-harga yang rendah akan mendatangkan keuntungan sedangkan harga-harga yang tinggi akan mendatangkan kerugian.

Sebagian besar pedagang disemua pasr, lebih menaruh perhatian pada harga penutupan dibandingkan dengan harga-harga lainnya. Di pasar berjangka, uang transfer dari rekening-rekening “para pihak yang rugi” ke rekening “para pihak yang untung”, pada tiap akhir hari perdagangan. RSI menunjukkan bahwa bulls atau bears akan menguat pada menjelang penutupan pasar, yaitu bersamaan dengan waktu yang krusial untuk penghitungan uang di pasar.

Sinyal RSI untuk Melakukan Transaksi

RSI memberikan tiga tipe sinyal untuk melakukan transaksi, berdasarkan urutan yang dianggap penting, yaitu divergensi atau pemecaran arah, pola grafik dan level RSI.

  • Divergensi bullish dan bearish
    Divergensi antara RSI dan harga memberikan sinyal-sinyal kuat untuk melakukan transaksi jual dan beli. Sinyal-sinyal muncul pada saat tren melemah dan siap untuk berbalik arah.

    1. Divergensi bullish memberikan sinyal untuk melakukan transaksi beli. Sinyal tersebut terjadi pada saat harga jatuh pada level harga terendah, baru akan tetapi RSI membentuk lembah dasar yang lebih dangkal dibandingkan dengan tingkat penurunan sebelumnya. Lakukan transaksi beli segera menyusul gerakan RSI mengarah ke atas dari lembah dasar kedua, dan tetapkan titik harga pengaman di bawah titik minor harga terendah yang terakhir terjadi. Sinyal beli akan kuat khususnya apabila lembah dasar RSI pertama terletak di bawah garis rujukan bawah dan lembah dasar kedua terletak di atas garis tersebut.
    2. Divergensi bearish memberikan sinyal untuk melakukan transaksi jual. Sinyal tersebut muncul pada saat harga bergerak membentuk suatu titik tertinggi yang baru, akan tetapi RSI membentuk puncak yang lebih rendah dari pada puncak yang terbentuk pada pergerakan harga sebelumnya. Jual posisi short sesegera mungkin menyusul gerakan menurun RSI dari puncak kedua, dan tetapkan titik harga pengaman di atas titik minor harga tertinggi yang terjadi terakhir. Sinyal jual akan menguat apabila puncak RSI pertama terletak diatas garis rujukan atas dan puncak harga kedua terletak dibawah garis rujukan atas dimaksud.
  • Pola Grafik
    Metode Grafik Klasik dapat diterapkan lebih baik terhadap RSI dari pada indikator lainnya. Garis tren, penopang maupun penahan, serta head and shoulder bekerja baik sekali pada RSI. RSI seringkali mampu menyempurnakan pola-pola ini hanya dalam beberapa hari mendahului harga-harga, memberikan petunjuk-petunjuk ke arah mana tren akan berubah.

    1. Apabila RSI mencapai titik tren menurun, tempatkan harga amanat beli diatas harga yang garis tren guna memungkinkan untuk menangkap pemunculan titik balik harga ke atas.
    2. Apabila RSI titik tren naik, tempatkan amanat jual posisi short di bawah harga pada garis tren untuk menangkap pemunculan titik balik harga ke bawah.
  • Level RSI
    Apabila RSI naik hingga di atas garis rujukan atas, hal tersebut menunjukkan bahwa tingkat kenaikan harga (bulls) cukup kuat, tetapi di pasar terjadi pembelian yang berlebihan dan sedang menuju zone jual. Jika RSI menurun di bawah garis rujukan bawah, hal tersebut menunjukkan bahwa tingkat harga bawah (bear) sedang menguat, akan tetapi di pasar sedang terjadi penjualan yang berlebihan dan sedang memasuki zone beli.
    Posisi akan menguntungkan dengan menggunakan sinyal-sinyal RSI harian untuk pembelian berlebihan, hanya jika tren mingguan sedang mengarah ke atas. Posisi akan mendatangkan keuntungan dengan menggunakan sinyal-sinyal jual RSI harian hanya jika tren mingguan mengarah ke bawah.

One response

  1. I love the theme here. Is it downloadable anywhere?

    Juni 15, 2011 pukul 12:07 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s