Becoming Sophisticated About Risk

Posts tagged “United States dollar

US Dollar Traders Have to Monitor Debt Talks, Euro Market, Risk Trends


US Dollar Traders Have to Monitor Debt Talks, Euro Market, Risk Trends

By John Kicklighter, Currency Strategist

22 July 2011 21:54 GMT

The US Dollar $USD IndexNY Spot Close 9457.56
US_Dollar_Traders_Have_to_Monitor_Debt_Talks_Euro_Market_Risk_Trends_body_USDOLLAR_risk.png, US Dollar Traders Have to Monitor Debt Talks, Euro Market, Risk Trends

US Dollar Traders Have to Monitor Debt Talks, Euro Market, Risk Trends

Fundamental Forecast for the US Dollar: Neutral

The countdown for the US is getting serious. We have concluded another weak where the US government has failed to come to a compromise on its deficit troubles. Further creating troubles for the greenback, we have seen the European funding market (a source of liquidity costs that plays to the dollar’s safe haven status) come into at least a temporary period of relief with a massive bailout effort by the EU; while risk appetite trends have taken a considerable jump to defer that long-threatened collapse. That said, all of these headwinds will do more to anchor the currency than necessarily generate a meaningful trend over the next week.

Heading into the new trading week, the deficit debate carries the greatest potential sway over the dollar. Depending on how this situation evolves; it could have a sweeping effect over the single currency and even the broader financial markets. Yet, it is prudent to work within reasonable probabilities to interpret how this matter will influence the dollar. If our outlook were for two weeks, it would be a virtual guarantee that the greenback is in for significant volatility and even a significant trend. However, our outlook is just for the upcoming week. That being the case, the outlook is far more fluid. Considering the deficit ceiling will be officially breached on August 2nd, there is time for political maneuvering as Democrats and Republicans gain points for sticking to their guns. It is a severely low probability that this situation ends in a technical default and the likelihood of a solution before next weekend is high.

How the deficit solution impacts the dollar and capital markets is a function of what is agreed to. If the limit is simply lifted to avoid the pain of a default event, it could offer temporary relief to capital markets and the greenback in equal parts. That said, the follow through would likely be limited as ratings agencies have warned the reasoning for a downgrade runs beyond just the quick fix and to the lack of long-term fiscal plan. Alternatively, should there be proposal that targets significant deficit reduction over a reasonable timeframe through a revenue (taxes) focus, an expenditure (spending) focus or a mix of both; it could be seen as an effort to pump the break on the economy and withdraw the very stimulus that has driven confidence and capital markets since the Great Recession – which would weigh on risk appetite which adds a safe haven appeal to the dollar as it garners attention for improved outlook for stability. If we end the week without a clear solution; expect volatility to grow increasingly unstable as rumors and headlines spur fear and speculation.

Another major driver for the dollar that fits within the ‘theme’ category is the blowback the greenback bears from the perception of the Euro Zone’s credit health. This past week, officials announced sweeping policy agendas to smother the sense of crisis contagion in the sovereign and private lending markets. There were major efforts adopted; but there are also significant shortfalls. Ultimately it comes down to market sentiment. If the steps taken don’t boost confidence or if risk aversion is an engrained and global driver, the euro will continue its slide and thereby boost its most liquid counterpart: the dollar.

When it comes down to it, these more pervasive and vague problems will determine the dollar’s activity level and general direction. However, there are a few scheduled events that can stir short-term volatility and perhaps even contribute or detract from existing trends. We have consumer confidence and housing sector data; but the real market-mover is the first reading of 2Q GDP. Depending on how risk trends are behaving, the outcome for the dollar can follow risk trends or speculation for additional stimulus. – JK


USD, EUR dan JPY Rawan Koreksi Mendadak


USD, EUR dan JPY Rawan Koreksi Mendadak

Jumat, 01 Juli 2011 13:12 WIB
TODAY’S ANALYSIS FOREX
Tiga mata uang utama berada dalam posisi rentan koreksi. Masing-masing mata uang memiliki ‘beban’ yang bisa memicu penurunan kurs.
Demikian pandangan seorang dealer di sebuah lembaga keuangan Jepang. “Hanya soal waktu, (valuta) mana yang anjlok terlebih dahulu,” ujar dealer tersebut. ‘Beban’ yang dimiliki oleh yen tidak lain adalah downgrade rating JGB. Sementara USD masih terbebani oleh plafon hutang dan anggaran Amerika Serikat (AS). Adapun faktor yang bisa menggerus euro tentu berasal dari perkembangan isu hutang Yunani.

Saat ini, dollar masih jadi valuta terkuat dibanding kedua rivalnya tersebut karena pesimisme pertumbuhan ekonomi mulai berkurang. Kemudian diikuti oleh EUR, terutama setelah titik terang penyelesaian hutang tampak di Athena. JPY sedang terbebani oleh hasil survei Tankan kuartal II yang dirilis mengecewakan. Sebagai catatan, permintaan eksportir terhadap yen sedang melemah pasca pembelian rutin di akhir bulan.


Emas Tertekan Dollar AS


Emas Tertekan Dollar AS

Jumat, 01 Juli 2011 10:07 WIB
TODAY’S ANALYSIS COMMODITY

Harga emas berpeluang untuk menuju level resistance di $1,525/ons, menurut Barclays Capital. Harga emas masih berada di bawah level $1,500/ons dikarenakan penguatan dollar AS dan aktifitas pembelian safe-haven yang minim sehingga menekan logam mulia.

“Level resistance emas di $1,525/ons, level support di bawah $1,490/ons lalu $1,460/$1470,” katanya. Untuk jangka menengah momentum masih bullish. Spot emas di $1,499.10/ons, turun $1.20 dari level penutupan New York kemarin (30/06). Harga emas kemarin sempat merosot karena investor memarkir dana tunai ke aset yang lebih beresiko setelah voting Yunani yang kedua. Penguatan dollar AS semakin menekan harga emas di hari ini (01/07).

EUR/USD di 1.4483 dari 1.4502 hari Kamis malam.


Commodity Update


Kegagalan Menaikkan Batas Hutang AS Beresiko Buruk Bagi Pasar
Gubernur Federal Reserve Ben Bernanke pada hari Selasa memperingatkan bahwa kegagalan untuk menaikkan batas limit hutang pemerintah yang saat ini ada pada 14.3 triliun dollar dapat berpotensi mengakibatkan AS kehilangan kredibilitas. Bernanke mengatakan dengan tidak adanya resolusi cepat untuk mengatasi batas hutang, AS dapat kehilangan peringkat hutang AAA miliknya, sementara status dollar sebagai reserve mungkin akan terancam. “Bahkan penundaan sementara dalam pembayaran obligasi pemerintah atau bunganya
dapat mengakibatkan gangguan pada pasar keuangan dan sistem pembayaran,” ucap Bernanke dalamm persiapan event yang disponsori Committee untuk Responsible Federal Budget. Tidak adanya tindakan yang diambil juga dapat “menciptakankeraguan fundamental mengenai kredibilitas AS serta merusak peran dollar dan oblgasi di pasar global untuk jangka panjang,” tambah Bernanke.

Kecemasan Inflasi Angkat Emas
Emas naik untuk ditutup di atas $1,524 pada hari Selasa, mengakhiri penurunan selama 2 hari berturut-turut, terdorong oleh meningkatnya tekanan inflasi di Cina dan kenaikan tajam pada komoditas industri terutama minyak mentah dan tembaga. Data Cina menunjukkan laju inflasi berada dalam level tercepat dalam hampir selama 3 tahun, sementara penjualan ritel AS turun kurang dari perkiraan. “Kecemasan yang lebih buruk terhadap data ekonomi telah diantisipasi. Selera resiko menguat dipasar, dan sebagian mengalir menuju emas,” ucap Bill O’Neill, partner pada LOGIC Advisors. Emas menguat seiring inflasi di Cina dan India bertambah cepat di bulan Mei, memicu Beijing untuk menaikkan persyaratan modal perbankan dan mendesak India untuk menaikkan tingkat suku bunga pekan ini setelah pertumbuhan di dua negara besar di Asia ini
menunjukkan tanda perlambatan.

Data Ekonomi AS dan Cina Lambungkan Minyak Ke Atas $98
Harga minyak naik pada hari Selasa dan minyak brent menyentuh level tertinggi dalam lebih dari 5 pekan setelah data Cina dan AS mengindikasikan kokohnya perekonomian global, meredakan kecemasan atas berkurangnya tingkat permintaan minyak mentah. Kenaikan minyak brent melebihi minyak mentah di awal sesi dan mendorong selisih antara brent dan minyak mentah ke rekor tinggi diatas $22 per barel, sebelum kembali turun. Gangguan suplai minyak mentah di Libya dan Nigeria dan ketatnya pengiriman di North Sea menjaga penguatan minyak brent. “Ada indikasi data ekonomi AS akan mulai membaik bulan depan, dan jika kita melihat data penjualan ritel, terkecuali sektor otomotif yang
terpukul akibat gempa bumi Jepang, sebetulnya naik 0.3%,” ucap Amrita Sen, analis minyak pada Barclays Capital. Wall Street yang ikut pulih akibat data Cina
dan AS juga menambah sentimen positif minyak.

***English Version***

Failure to Raise the U.S. Debt Limit Bad For Market Risk

Federal Reserve Governor Ben Bernanke on Tuesday warned that failure to raise the limit on government debt that currently exist at 3.14 trillion U.S. dollars may potentially result in loss of credibility. Bernanke said that with no quick resolution to address the debt limit, the U.S. could lose its AAA debt rating, while the dollar as a reserve status may be threatened. “Even the temporary delays in the payment of government bonds or interest thereon may cause disruption in financial markets and payment system,” Bernanke said dalamm preparatory event sponsored Committee for Responsible Federal Budget. The lack of action taken can also be “fundamental menciptakankeraguan about U.S. credibility and damage to the dollar and oblgasi role in the global market for the long term,” Bernanke added.

Inflation Fears Lift Gold

Gold rose to close above $ 1.524 on Tuesday, ending a decline for 2 days in a row, driven by rising inflationary pressures in China and a sharp rise in industrial commodities, especially crude oil and copper. Chinese data show the rate of inflation is the fastest level in almost 3 years, while U.S. retail sales fell less than expected. “Anxiety is worse on the economic data have been anticipated. Tastes stronger market risk, and some flowed into gold,” said Bill O’Neill, partner at LOGIC Advisors. Gold rose as inflation in China and India grow rapidly in May, sparked by Beijing to raise capital requirements for banks and urged India to raise interest rates this week after growth in two major countries in Asia is showing signs of slowing.

U.S. Economic Data and catapulted China to top $ 98 Oil

Oil prices rose on Tuesday and Brent oil touched its highest level in more than 5 weeks after China and U.S. data indicate kokohnya global economy, relieve the anxiety of the reduced level of demand for crude oil. The increase exceeded Brent crude oil at the beginning of the session and encourage the difference between the Brent and crude oil to a record high above $ 22 per barrel, before heading back down. Crude oil supply disruptions in Nigeria and Libya and the tight delivery in North Sea Brent oil to maintain reinforcement. “There are indications that U.S. economic data is beginning to occur next month, and if we look at retail sales data, including the automotive sector is hit by the earthquake Japan, actually rose 0.3%,” said Amrita Sen, oil analyst at Barclays Capital. Wall Street is part of China recover from data and U.S. oil also adds a positive sentiment.


Debt crisis overshadowed Euro Appreciation


Krisis Hutang Bayangi Apresiasi Euro

Euro dan mata uang ber-yield lebih tinggi diperdagangkan menguat pada Selasa, seiring pulihnya risk appetite pasca serangkaian data China mampu meredakan kecemasan melambatnya pertumbuhan global, begitu juga kenaikan persyaratan cadangan perbankan China. Meskipun begitu, trader menilai euro tetap berpotensi didera sell on rallies mengingat masih adanya kecemasan krisis hutang Yunani dan ketidakpastian rencana keterlibatan sektor swasta. Inflasi Cina melambung ke level tertinggi dalam 34 bulan, dan langkah bank sentral China menaikkan persyaratan cadangan bank sebesar 50 basis poin, menurut analis merupakan sebuah skenario dari pemerintah China dalam meredam laju ekonomi secara perlahan. Hal tersebut dapat mengangkat sentimen terhadap resiko dalam jangka pendek, yang ditunjukkan dengan kenaikan solid pada saham-saham Eropa dan AS. Pada hari yang sama, menteri keuangan zona Euro berdiskusi guna membahas bagaimana keterlibatan investor swasta pemegang obligasi Yunani dalam paket pinjaman ke-2 untuk Yunani menjelang batas waktu kesepakatan pada 20 Juni mendatang.

 

Kenaikan Pound Beresiko

Sterling menguat versus Dollar AS yang tengah berjuang untuk pulih di hari Selasa, namun apresiasi sterling justru memperbesar resiko terjadinya aksi jual mengingat data inflasi Inggris mengikis kepercayaan investor akan adanya kenaikan suku bunga oleh Bank of England dalam waktu dekat. Inflasi tingkat konsumen di Inggris tumbuh dengan laju 4,5% pada tingkat tahunan di bulan Mei, bertahan di level tinggi 2½- tahun dan jauh lebih tinggi dari target BoE pada 2%. Namun para analis menilai jika angka tersebut belum cukup untuk mendesak BoE menaikkan suku bunga dari rekor rendah 0,5% dalam beberapa bulan ke depan, meski BoE berulang kali memperingatkan adanya resiko inflasi dapat mencapai 5% sebelum kembali mereda. Posisi Sterling akan semakin tertekan untuk beberapa bulan kedepan, seiring bank-bank sentral besar seperti European Central Bank diprediksi akan kembali menaikkan suku bunganya, sementara QE2 Fed akan segera berakhir.

 

Data AS Bantu Dollar Memperdayai Yen
Dollar AS berbalik menekan Yen Jepang dan memangkas penurunan terhadap sebagian besar mata uang lainnya pada hari Selasa pasca terjadi lonjakan pada data inflasi AS dan penurunan angka penjualan ritel AS yang kurang dari perkiraan. Data menunjukkan kenaikan terbesar sejak 2008 pada harga produsen tahunan AS, mengangkat yield obligasi dan menambah daya tarik Greenback. Euro dan mata uang ber-yield tinggi lainnya yang sempat menguat pada awal sesi harus melepas gain terhadap dollar pasca data dirilis.
“Bagusnya data AS pada awalnya mendukung resiko, tetapi sekarang Dollar terlihat mulai menguat terhadap semua mata uang,” kata Kathy Lien, direktur
riset pada GFT Forex di New York. Penjualan Ritel AS pada bulan Mei merosot untuk pertama kalinya dalam 11 bulan terakhir akibat penerimaan dealer mobil yang turun tajam. Namun penurunan penjualan ritel itu masih lebih sedikit dibandingkan estimasi. Sementara Inflasi Harga Produsen AS untuk tingkat tahunan melonjak jauh di atas ekspektasi. “Data seimbang dan layak, sehingga mendorong yield naik dan diikuti oleh Dollar terhadap Yen,” kata Omer Esiner, kepala analis pasar Commonwealth Foreign Exchange di Washington.

 

***English Version***

 

Debt crisis overshadowed Euro Appreciation

Euro and the currency had traded higher yields rose on Tuesday, as the recovery in risk appetite of China’s post-series data can relieve anxiety slowing global growth, as well as the increase in China’s banking reserve requirements. Even so, traders assess the euro still has the potential to sell on rallies suffered due to the presence of anxiety and uncertainty Greek debt crisis plan for private sector involvement. Chinese inflation soared to its highest level in 34 months, and the steps China’s central bank raised bank reserve requirements by 50 basis points, according to analysts is a scenario of the Chinese government in reducing the rate of the economy gradually. It can lift sentiment toward risk in the short term, as indicated by a solid rise in European stocks and U.S.. On the same day, discussing the Euro zone finance ministers to discuss how the involvement of private investors in the Greek bondholders 2nd loan package to Greece before the time limit agreed on 20 June.

Pound Increase Risk

Sterling strengthened versus the U.S. dollar is struggling to recover on Tuesday, but the appreciation of sterling would increase the risk of indiscriminate selling as data for UK inflation will erode investor confidence in the existence of interest rate hikes by the Bank of England in the near future. UK consumer inflation rate grew at a rate of 4.5% at an annual rate in May, remained at a high level of 2 ½ – year and much higher than the BoE target at 2%. But analysts assess if the number is not enough to urge the BoE to raise interest rates from a record low 0.5% in the months ahead, although the BoE has repeatedly warned of the risk of inflation could reach 5% before returning to subside. Sterling will be increasingly depressed position for a few months ahead, as the major central banks like the European Central Bank is expected to again raise interest rates, while the QE2 Fed will soon end.

U.S. Data Help Dollar Yen deceptive

U.S. Dollar Japanese Yen turned press and trim decline against most other currencies on Tuesday after going spike in U.S. inflation data and the decline in U.S. retail sales figures are less than expected. Data showed the largest increase since 2008 in the annual U.S. producer price, lifting bond yield and add interest greenback. Euro and currencies were other high yield which was strengthened in the early session gains against the dollar should be released after the data was released.
“Good U.S. data initially support the risk, but it now looks dollar began to strengthen against all currencies,” said Kathy Lien, director
research at GFT Forex in New York. U.S. Retail Sales in May declined for the first time in 11 months from receipt of car dealerships fell sharply. But the decline in retail sales was still less than the estimate. While the U.S. Producer Price Inflation to an annual rate soared far above expectations. “Data balanced and reasonable, thus pushing the yield up and followed by the dollar against the yen,” said Omer Esiner, chief market analyst at Commonwealth Foreign Exchange in Washington.


Bailout Yunani, Payrolls AS Picu EUR Bidik $1.4670



Senin, 06 Juni 2011 11:12 WIB

TODAY’S ANALYSIS FOREX

Mata uang tunggal Euro terus bertahan di kisaran kuatnya dalam 1-bulan terhadap USD di hari Senin setelah akhir pekan lalu tim “troika” (Uni Eropa, European Central Bank dan IMF) sepakat untuk memberi bantuan internasional berikutnya bagi negara Yunani di awal bulan Juli.
Euro turut makin perkasa setelah dollar A.S terpukul oleh buruknya angka tenaga kerja (Non-farm payrolls/NFP) yang juga menghantarkan tingkat pengangguran meningkat tipis menjadi 9,1% dari sebelumnya 9,0%.

“Pasar tenaga kerja masih sangat lemah dan jika kondisinya tetap seperti ini, Federal Reserve mungkin tidak akan menaikkan suku bunga hingga dalam 12 bulan mendatang”, ungkap Kathy Lien, direktur riset valas pada GFT.

“Angka tenaga kerja AS yang lemah akan memberikan dukungan positif untuk EUR/USD belum lagi investor terus disemangati bahwa ECB masih memiliki rencana untuk menaikkan suku bunga pada musim panas ini,” imbuhnya.

Secara teknikal resisten terdekat berikutnya untuk EUR berada di $1.4670 kemudian $1.4700. Sementara bila EUR sanggup mendobrak lagi level $1.4620, pergerakan akan sedikit bearish menuju support terdekat di level $1.4580 dan $1.4520

****

Greece bailout, U.S. payrolls Trigger Shutter $ 1.4670 EUR

Monday, June 6, 2011 11:12 pm

TODAY’S FOREX ANALYSIS

Euro single currency continues to survive in the strong range in 1-month high against the USD on Monday after last weekend’s team “troika” (the European Union, the European Central Bank and the IMF) have agreed to give international aid next to the Greek state at the beginning of the month July.
The euro also more powerful after the U.S. dollar hit by poor rates of labor (Non-farm payrolls / NFP), which also delivers the unemployment rate increased slightly to 9.1% from 9.0% previously.

“The labor market is still very weak and if the conditions stay like this, the Federal Reserve might not raise interest rates until the coming 12 months, ” said Kathy Lien, director of currency research at GFT.

“The number of weak U.S. labor force will provide positive support for the EUR / USD continues encouraged investors not to mention that the ECB still has plans to raise interest rates this summer,” he added.

The next nearest technical resistance for the EUR was at $ 1.4670 and $ 1.4700. Meanwhile, when the EUR could break down again at $ 1.4620, the movement will be slightly bearish toward the nearest support level of $ 1.4580 and $ 1.4520


Kesuksesan Yunani Bantu Reli Euro


Jumat, 03 Juni 2011 22:07 WIB
TODAY’S ANALYSIS FOREX
Euro raih level tinggi 1 minggu terhadap dollar setelah Athena katakan inspeksi Uni Eropa/IMF terhadap Yunani berakhir positif. Meski, pasar nantikan bailout kedua untuk Yunani, tapi Kementrian Keuangan tidak sebutkan perjanjian apapun akan bantuan lebih lanjut.

“Diskusi pemerintah Yunani dengan perwakilan dari Komisi Eropa, ECB, dan IMF hasilkan kesimpulan yang positif,” ungkap Kementrian Keuangan. Uni Eropa, ECB, dan IMF akan publikasi hasil pemeriksaan  terhadap implementasi bailout €110 milyar tahun lalu. Perdana Menteri George Papandreou juga akan bertemu dengan Jean-Claude Juncker, ketua kelompok menteri keuangan zona-euro, untuk sampaikan rencana anggaran jangka menengah. Yunani mungkin ajukan pemotongan anggaran belanja lebih dalam, kebijakan yang dapat tingkatkan pendapatan, dan menjual aset negara demi bujuk Uni Eropa dan IMF untuk berikan pinjaman darurat tambahan untuk waktu yang lama.

Sementara itu, euro lanjutkan reli setelah data malam ini tunjukkan lambatnya pemulihan sektor tenaga kerja AS. Euro tengah uji resisten 1.4566, level Fibonacci 61.8% dari kejatuhan 4 Mei hingga 23 Mei; dimana penutupan harian di atas level tersebut dapat pacu kenaikan hingga 1.4647, harga tertinggi 21 April. (fir)


Greenback Sekarat Jelang Non-farm Payrolls


Jumat, 03 Juni 2011 – 01:27 WIB

Serangkaian data ekonomi AS yang mengecewakan baru-baru ini, mulai dari sektor pabrik hingga ke pasar tenaga kerja, telah memperkeruh outlook perekonomian AS, membuat Dollar menjadi kurang menarik dibandingkan mata uang yang ber-yield lebih tinggi.

Rilis data-data tersebut juga bertepatan dengan munculnya kekhawatiran terhadap akan selesainya pelonggaran kuantitatif Fed putaran ke-2, yang juga dikenal sebagai QE2, pada akhir bulan ini. Berakhirnya program pembelian aset sebesar $600 milyar tersebut, yang diluncurkan untuk menstimulasi perekonomian, dikhawatirkan para investor akan dapat menghambat pemulihan ekonomi.

Sementara Non-farm Payrolls AS yang akan dilaporkan Departemen Tenaga Kerja pada hari Jumat merupakan penggerak utama bulanan pasar keuangan, mengingat pertumbuhan lapangan kerja merupakan salah satu dari dua mandat Fed. Non-farm Payrolls AS diperkirakan tumbuh sebanyak 150.000 pada bulan Mei, menurut jajak pendapat Reuters.

Angka yang lemah mungkin akan membebani Dollar, tetapi Greenback bisa mendapatkan dukungan jika data dirilis dengan selisih yang ekstrem. Angka yang sangat buruk atau bahkan negatif mungkin akan memberikan beberapa dukungan bagi safe haven, sementara angka yang jauh lebih kuat dari estimasi dapat memicu bullish Dollar dalam jangka menengah, menurut Vassili Serebriakov, analis mata uang Wells Fargo di New York.

Posted with WordPress for BlackBerry.


Waspada! ‘Non-farm Payrolls’ Dirilis Besok!


Kamis, 02 Juni 2011 – 11:50 WIB

Waspada! ‘Non-farm Payrolls’ Dirilis Besok
Akhir pekan ini, Jumat (3/6) pelaku pasar dunia kembali akan disuguhi data Non-farm payrolls AS (tenaga kerja diluar sektor pertanian) dengan prediksi peningkatan hanya sebesar 150 ribu tenaga kerja dibanding periode sebelumnya sebesar 244 ribu.

Perkiraan tersebut merupakan angka prediksi terakhir setelah dipangkas oleh para ekonom dari prediksi sebelumnya sebesar 180 ribu. Pemangkasan pekiraan ini terpaksa dilakukan akibat data-data ekonomi A.S yang dirilis belakangan ini tidak memberikan performa terbaiknya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.

Hari Rabu kemarin survei swasta (ADP National Employment) menunjukkan perusahaan-perusahaan di AS hanya menambah 38.000 pekerja di bulan lalu, kenaikan terkecil sejak bulan September. Sementara indeks manufaktur bulan Mei juga melorot melampaui perkiraan di angka 53.5 dari sebelumnya 60.4 (Ekspektasi analis 57.7).
Alhasil buruknya angka-angka ekonomi ini turut menambah kecemasan atas melambatnya pemulihan ekonomi di Amerika dan sudah pasti akan memperburuk pelemahan dollar selanjutnya.

Posted with WordPress for BlackBerry.


Commodity Update: Oil Bearish Trend


MINYAK
Minyak Konsolidasi, Trend Bearish

Minyak Nymex pengiriman bulan Juli konsolidasi setelah naik $1.17 menjadi $100.10/barrel, menurut analisa teknikal Dow Jones. Grafik harian dengan menggunakan indikator MACD menunjukkan trend bearish, namun indikator stochastic menunjukkan bullish dan berada di level oversold. Resistance di $100.42 (level tinggi hari Jumat); jika berhasil menembus level ini, minyak berpeluang untuk naik ke $100.99 (level tinggi hari Rabu), lalu ke $104.60 (level tinggi 11 Mei) dan $105.31 (kisaran MA 55-day). Support di $96.35 (level rendah hari Jumat); lalu $95.02 (level rendah hari Selasa), kemudian $94.63 (level rendah 6 Mei) dan $92.84 (level pada 31 Januari).
Minyak kontrak Juli turun $1.00 menjadi $99.10/barrel di Globex.

EMAS
Krisis Eropa untungkan prospek harga emas

Nilai kontrak emas diperkirakan terus menguat guna melanjutkan peningkatan mingguan pertamanya dalam 3 pekan terakhir. Kekhawatiran terhadap utang sejumlah negara di Eropa menaikkan permintaan logam mulia itu sebagai pengaman aset. Harga emas pengiriman dalam waktu dekat naik 0,5% menjadi US$1.519,35/troy ounce. Kontrak emas diperdangkan naik 1,2% sepanjang pekan lalu. Kontrak emas pengiriman Juni di bursa New York juga menguat 0,7% menjadi US$1.519/troy ounce. “Inevstor membeli aset pengaman nilai setelah Fitch Ratings menurunkan peringkat utang Yunani dan Standard & Poor’s menempatkan Italia ke outlook yang negatif. Hal ini memperkuat kurs dolar AS,” kata Head of Commodity Research ANZ Banking Group Ltd Mark Pervan dalam laporannya hari ini. S&P pekan lalu menurunkan prospek kredit Italia ke negatif dari posisi stabil dengan pertimbangan risiko pelambatan laju ekonomi dan kesulitan pemangkasan utang pemerintah. Fitch juga memangkas peringkat utang Yunani. Perkembangan itu menyebabkan euro melemah 0,5% terhadap dolar AS.

Posted with WordPress for BlackBerry.