Becoming Sophisticated About Risk

Posts tagged “Monex Sby

Technical Outlook 10 Februari 2014


·         EUR/USD. Bias arah menjadi netral di jangka pendek dengan potensi range trading di kisaran 1.3500 – 1.3680. Tembus lagi diatas area 1.3680 potensial memicu momentum bullish mengincar area 1.3720 – 1.3760. Support terdekat tampak di area 1.3550, anjlok secara konsisten dibawah area tersebut kemungkinan memicu tekanan koreksi bearish menguji area support 1.3485.

·         GBP/USD. Bias cenderung netral di jangka pendek, dengan potensi pelemahan menguji area support 1.6300, anjlok lagi secara konsisten dibawah area tersebut berpeluang menambah momentum bearish mengincar area 1.6250. Resisten terdekat tampak di area 1.6425, hanya penembusan diatas area tersebut dapat memicu skenario koreksi keatas lebih lanjut mengincar area 1.6475.

·        USD/JPY. Bias bullish di jangka pendek, khususnya jika berhasil tembus diatas 102.35 untuk mengkonfirmasi skenario koreksi bullish mengincar area 102.60 sebelum akhirnya menguji area resisten kunci 103.25. Di sisi bawahnya, hanya penembusan dibawah area 101.25 baru bisa merubah bias intraday menjadi bearish mengincar area 100.60 atau bahkan lebih rendah.

·       USD/CHF. Bias arah menjadi bearish di jangka pendek, khususnya jika berhasil anjlok dibawah area 0.8945 untuk menambah momentum bearish mengincar area 0.8900. Resisten terdekat tampak di area 0.9040, berbalik lagi secara konsisten diatas area tersebut berpotensi merubah bias intraday menjadi bullish mengincar area 0.9085.

·       AUD/USD. Bias cenderung bullish, namun masih dibutuhkan konfirmasi penembusan diatas area 0.9045 untuk memicu skenario bullish mengincar area resisten kunci 0.9155. Di sisi bawahnya, support terdekat tampak di area 0.8910, penembusan konsisten dibawah area tersebut dapat membawa harga ke zona netral karena arahnya menjadi kurang jelas di jangka pendek

·         XAU/USD. Bias masih netral seiring emas terperangkap di antara MA 50-harian ($1235) dengan MA 100-harian ($1272). Meskipun emas telah menguji MA 100 untuk ketiga kalinya dalam 2 pekan terakhir; namun emas masih perlu mencatatkan level penutupan harian di atas $1273 untuk memicu kenaikan lebih lanjut. Kegagalan mengatasi MA 100 dapat menegaskan pergerakan sideways dan berpotensi memicu aksi profit-taking. Posisi short masih sesuai dengan stop-loss $1275 dan target penurunan $1235. Namun, jika harga stabil di atas $1275 maka ini dapat mendorong kenaikan untuk menguji $1279.

·         Hang Seng Futures. Pada grafik harian, indikator Stochastic dan RSI yang berada di area oversold dapat menyediakan kesempatan naik untuk jangka pendek. Posisi long lebih sesuai dengan stop-loss 21460 dan target kenaikan 21960. Namun, jika harga stabil di bawah 21460 maka dapat memicu tekanan penurunan menguji 21140.

·         Nikkei Futures. Indikator Stochastic yang oversold pada grafik harian dan kemampuan Nikkei berada di atas MA 200 harian dapat isyaratkan masih adanya potensi kenaikan lebih lanjut. Posisi long lebih sesuai dengan stop-loss 14500 dan target kenaikan 14800. Namun, jika harga stabil di bawah 14500 maka dapat memicu tekanan penurunan menguji 14410.

·   Kospi FuturesBias bearish untuk Kospi dalam jangka pendek seiring harga masih terperangkap antara MA 50 & 100 pada grafik 1 jam di area 249.45 (50) & 251.90 (100). Harga harus break salah satu area untuk temukan petunjuk lanjutan. Break ke atas area 251.90 seharusnya memicu bullish lanjutan menuju area 252.90 sebelum menargetkan ke area kunci resisten di 254.00. Sementara untuk sisi bawahnya, break kebawah area 249.45 dapat memicu bearish lanjutan menuju area 248.25 sebagai level support selanjutnya.


Market Outlook Today


Official portrait of United States House Speak...

Official portrait of United States House Speaker (R-Ohio). (Photo credit: Wikipedia)

EMAS

 

Komoditi Emas merosot cukup dalam pada perdagangan kemarin, merosotnya komoditi ini setelah juru bicara DPR AS John Boehner pada proposal terakhir tentang fiscal cliff pada Presiden Barack Obama akan untuk pertama kalinya melihat kenaikan pajak pendapatan (untuk pendapatan kelas atas). Komoditi Emas diperdagangkan sedikit berubah perdagangan kemarin  dari tanda-tanda dari pergerakan nyata pertama minggu ini dalam negosiasi berkenaan dengan fiscal cliff yang mana menetralkan beberapa aksi beli padasafehaven komoditi Emas. Pada awalnya komoditi ini menguat dari harapan bahwa BoJ akan menggunakan stimulus moneter yang lebih setelah PM Jepang berikutnya Shinzo Abe menyebutkan langkah agresif untuk mendorong pertumbuhan.

 

GBP/USD

 

Sterling bergerak menguat pada perdagangan kemarin dipicu oleh menguatnya permintaan dari investor Timur Tengah dan perusahaan yang ingin melakukan hedge, beberapa analis memprediksi Sterling masih berpotensi melanjutkan penguatan jika politisi Amerika gagal mengatasi fiscal cliff.  Untuk selanjutnya fokus para pelaku pasar tertuju rilis data inflasi Inggris pada hari ini Selasa dan besok Rabu MPC Meeting Minutesyang mungkin akan memberikan sinyal tentang kemungkinan QE lebih lanjut. Sementara itu analis mata uang RBS Melinda Burgess memperkirakan jika rilis data penjualan ritel pada hari Kamis mendatang justru diperkirakan lebih berpotensi mendongkrak Sterling, secara keseluruhan BoE masih akan menunjukkan sikapdovish mereka dan Sterling kemungkinan akan lebih bereaksi terhadap data penjualan ritel minggu ini yang diperkirakan akan menunjukkan peningkatan dan memberi katalis positif.

 

HANGSENG

 

Bursa saham Hongkong bergerak menguat tipis pada perdagangan dihari Selasa pagi, bursa saham Hongkong ikut menguat setelah bursa saham AS ditutup di teritori positif pada akhir perdagangannya kemarin. Harapan pasar mengenai segera tercapainya rancangan anggaran di AS telah memberikan dorongan menguat ke bursa-bursa saham global termasuk Asia, harapan ekonomi China juga mengalami pemulihan yang solid turut mendongkrak bursa saham Hongkong positif.

 


Market Outlook Today


The New York Stock Exchange, the world's large...

The New York Stock Exchange, the world’s largest stock exchange by market capitalization (Photo credit: Wikipedia)

EMAS

 

Komoditi Emas kembali bergerak melemah lebih dari 1% seiring kekecewaan pasar terhadap lambatnya persetujuan budget AS pada perdagangan kemarin, padahal US dolar melemah dan  harga minyak mentah juga ikut melemah sehingga semua komoditas lain melemah. Ketidakpastian ekonomi yang berhubungan dengan pembicaraan budget AS dan mengenai heavy selling setelah penutupan option minggu lalu yang juga meyebabkan komoditi ini melemah.

 

AUD/USD

 

Mata uang Australia koreksi tipis pada perdagangan di sesi Asia pagi ini, mata uang Aussie sedikit melemah meskipun masih berada di kisaran tertinggi dalam lebih dari satu minggu belakangan. Melemahnya mata uang ini terjadi setelah rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal ke III di Australia menunjukkan hasil yang kurang dari harapan. Rilis data pagi ini mengenai pertumbuhan ekonomi kuartal ke III di Australia data menunjukkan bahwa di kuartal ke III terjadi pertumbuhan ekonomi sebesar 0.5% (q/q), meskipun tidak terlalu buruk namun hasil tersebut masih kurang dari ekspektasi yang sebesar 0.6%. Pertumbuhan di kuartal ke III ini juga melambat dari pertumbuhan yang terjadi di kuartal ke II yang sebesar 0.6%.

 

NIKKEI

 

Bursa saham Jepang awal pembukaan perdagangan disesi Asia cenderung bergerak sedikit melemah, bursa saham Jepang tergerus melemah melanjutkan pergerakan negatif pada sesi perdagangan sebelumnya. Para investor bersikap negatif setelah bursa saham Wall Street melemah akibat menguatnya kekhawatiran mengenai anggaran AS. Namun setelah sedikit melemah Indeks Berjangka Nikkei bergerak rebound seiring bursa saham AS menyingkirkan sentimen di Asia dalam penutupan lemahnya kemarin, saat para politikus di sana masih berselisih pendapat terkait solusi untuk masalah keuangan guna menghindari kenaikan pajak dan pemangkasan anggaran belanja yang mungkin akan mendorong AS ke jurang resesi.

 


Market Outlook Today


English: The Hongkong and Shanghai Banking Cor...

English: The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited 『HSBC Premier Centre』Ikebukuro Branch 日本語: 香港上海銀行 『HSBCプレミアセンター』 池袋支店(店番:150) (Photo credit: Wikipedia)

EMAS

 

Komoditi Emas pada perdagangan kemarin bergerak melemah lebih dari 1%, melemahnya komoditi ini dipicu oleh kekhawatiran para pelaku pasar mengenai kondisi ekonomi global dan beberapa komoditas lain termasuk minyak mentah juga turut melemah. Lesunya bursa saham yang didorong oleh laporan keuangan perusahaan-perusahaan yang mengecewakan berimbas melemahnya Logam Mulia. Beberapa komoditi lain ikut melemah seiring dengan kekhawatiran mengenai krisis ekonomi di kawasan Eropa, di hari Senin lalu Moody’s menurunkan rating lima wilayah di Spanyol.

 

AUD/USD

 

Mata uang Aussie bergerak menguat pada perdagangan di hari Rabu pagi seiring rilis data inflasi konsumen di Australia menunjukkan tingkat inflasi kuartalan yang lebih besar dari estimasi, dengan kondisi tersebut aussie rebound dari level terendah dalam lebih dari satu minggu belakangan. Kenaikan inflasi tersebut sedikit menutup ruang bagi RBA untuk menurunkan suku bunga. Aussie pada perdagangan kemarin sempat melemah tajam seiring dengan lesunya bursa saham, kemarin aussie sempat melemah hingga ke level 1.0236 terendah sejak tanggal 15 Oktober.

 

HANGSENG

 

Bursa saham Hongkong bergerak melemah pada perdagangan tadi pagi, bursa saham melemah seiring dengan sentimen negatif yang menyambangi bursa saham Asia akibat lesunya laporan-laporan keuangan di bursa saham Wall Street yang melemah cukup signifikan. Ada beberapa saham yang bergerak bervariasi diantaranya adalah HSBC dan  Henderson Land bergerak melemah, sementara itu Hangseng Bank Limited dan SHK Properties bergerak menguat.


Growth, Inflation Data and a Rate Decision Make for a Volatile Week


By Christopher Vecchio, Junior Currency Analyst

22 July 2011 20:55 GMT

With the last full week of July ahead, there is significantly more event risk on the docket than the third week in July. Now, as the markets have begun to digest the results of the new bailout of Greece, price action will largely be dictated by key events on the docket, including American and British growth figures, Australian and German consumer price indexes, and a rate decision from the most southern antipodean nation. Still, the markets will continue to listen to jabbering between Democrats and Republicans, as the debt ceiling debacle has still yet to find resolution ahead of the ‘hard’ August 2 deadline.

United Kingdom Gross Domestic Product (YoY) (2Q A): July 26 – 08:30 GMT

The British economy has experienced growth of at least 1.5 percentin each of the past four quarters, on a year-over-year basis, going back to the second quarter of 2010. Surveys indicate that the GDP growth figure released on July 26 will come in at 0.8 percent, well below last quarter’s 1.6 percent pace, on a yearly-basis. Growth forecasts have been revised downwards as the economy has failed to pick up momentum in recent weeks and months, as most recently noted by the Bank of England minutes, released this past week.

Contributing to the downturn has been the persistent Euro-zone debt crisis, which has curtailed investment overseas and demand for British goods. Inflation continues to be stubbornly high at 4.5 percent, more than double the inflation target rate as set by the Bank of England. Although a decline in output should deter further inflation, the priority remains to accelerate economic growth, which is why the central bank has held rates at 0.50 percent for twenty-nice consecutive months.

United States Durable Goods Orders (JUN): July 27 – 12:30 GMT

U.S. Durable Goods Orders are expected to have risen only 0.3 percent after increasing a promising 2.1 percent in May, already revised up from the 1.9 percent initial reading. The increase is still welcomed following a 2.7 percent drop in orders in April. The recent upswing in the closely watched economic indicator is rooted mainly in easing disruptions to factory production in the United States, as supply chain disruptions as a result of the aftermath of the Japanese natural disasters and ensuing earthquake weakened demand. In the fragile U.S. economy, manufacturing has been one of the key areas of strength since the recession abated.

A weaker domestic currency has boosted exports and encouraged manufacturers to continue to make long-term investments. The durable goods orders report is a leading indicator of economic health, and will thus be closely watched to gauge manufacturers’ sentiment and investment activity as the debt ceiling debate looms in the U.S.

Reserve Bank of New Zealand Rate Decision (JUL 28): July 27 – 21:00 GMT

At its last meeting on June 8, the Reserve Bank of New Zealand decided to maintain its key benchmark interest rate at 2.50 percent, on the outlook that the economy is steadily improving following the earthquakes over the past few months. The central bank has determined that the most southern antipodean nation is still in need of stimulus to promote further strengthening. It is widely expected that the key rate will be kept at 2.50 percent at the next monetary policy meeting on July 28, with the Credit Suisse Overnight Index Swaps showing a mere 6.0 percent chance of a 25.0-basis point rate hike. Still, despite such weak expectations, the number of basis points priced into the Kiwi over the next 12-months, 94.0, has boosted the New Zealand Dollar since mid-March.

In spite of such a strong domestic currency, recent data releases indicate that the economy is undergoing robust growth and inflation has risen faster than expected. GDP growth figures released on July 13 came in at 1.4 percent, blowing past a forecast of 0.5 percent growth, while recent inflationary data showed inflation increasing to 5.3 percent, topping expectations of 5.1 percent, on a year-over-year basis. These two important economic indicators will play a major role in determining future the central bank’s cash rate decisions. If the recent growth continues, there is a high probability that there will be a rate hike in September to contain inflationary pressures.

German Consumer Price Index (YoY) (JUL P): July 28 – 04:00 GMT

The German consumer price index has remained steady for the last six months and no change is expected in this figure at the next release next Thursday. According to a Bloomberg News survey, the initial forecast calls for a print of 2.3 percent on a year-over-year basis, matching the number of the previous month. This number is slightly higher than the European Central Bank’s target inflation of “below but close to 2 percent,” but the recent rate hikes enacted by the central bank are expected to help suppress further jumps in inflationary pressures: changes in interest rates take anywhere from two- to six-months to be felt by an economy.

Higher energy prices have been the primary driver keeping inflation above the 2.0 percent mark but “lower food and seasonal food prices can be in part held responsible for the benign pan-German reading.” Since Germany is the Euro-zone’s strongest and largest economy, this reading is closely watched by the European Central Bank as a determinant of their monetary policy decisions.

United States Gross Domestic Product (Annualized) (2Q A): July 29 – 12:30 GMT

The U.S. economy is expected to have experienced very slow economic growth in the second quarter of 2011. The GDP data that will be released on July 29 is an indication that output is increasing at a decreasing rate, albeit at a decreasing rate. Forecasts call for a 1.7 percent growth in output versus a 1.9 percent growth experienced in the first quarter, according to a Bloomberg News survey. Two significant factors contributing to the slow recovery include high food and energy prices and supply chain disruptions following the Japan earthquake.

The ongoing debt ceiling debate has reduced consumer confidence as investors concerns grow about the possibility of a U.S. default. The lowered confidence levels have translated into reduced spending impacting the output produced by the world’s largest economy. At the most recent Federal Reserve monetary policy meeting, the FOMC revised GDP and unemployment forecasts downwards from their April projections. The change in growth forecasts for 2011 and 2012 have been revised from 3.3 percent to 2.9 percent and from 4.2 percent to 3.7 percent, respectively.

Written by Christopher Vecchio, Currency Analyst


Market Overview Today


MINYAK

Pada penutupan perdagangan dini hari tadi harga minyak mentah tampak mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Harga minyak mentah menguat karena investor menyerbu aset-aset berisiko seperti saham dan menawar harga tinggi atas Euro di tengah optimisme bahwa Eropa akan bertindak mengatasi krisis utang. Minyak mentah reli hari kedua di New York karena terpicu spekulasi penyusutan cadangan dan sinyal pemulihan ekonomi di AS. Hal ini mengindikasikan permintaan bahan bakar di negara pengonsumsi minyak mentah terbesar di dunia itu akan meningkat. Harga minyak lanjut reli setelah American Petroleum Institute (API) menyebut pasokan minyak mentah AS jatuh paling besar dalam enam pekan terakhir. API merilis pasokan turun 5,2 juta barel menjadi 354,2 juta barel. Ini merupakan penurunan terbesarnya sejak pekan yang berakhir 3 Juni. Sementara Departemen Energi AS baru akan merilis laporannya hari ini. Survei Bloomberg memprediksi Departemen Energi akan melaporkan stok turun 2 juta barel minggu lalu. Ini adalah penurunan cadangan untuk pekan yang ketujuh. Selain itu sentimen positif ekonomi AS muncul setelah kemarin Departemen Perdagangan menyebutkan pembangunan rumah di AS pada Juni naik 15% dibanding bulan sebelumnya. Ini merupakan laju tercepatnya dalam lima bulan terakhir.

EMAS

Harga emas ditutup melemah meskipun sempat membukukan rekor tertinggi di $1609.50/troy ounce. Hal ini menjadikan Emas gagal melanjutkan penguatan beruntunnya setelah sebelumnya berhasil mencatat rekor penguatan beruntun terpanjang dalam 11‐sesi terakhir yang menyamai rekor pada 1975 silam. Sejauh ini Emas telah mencatat kenaikan sebesar 13% sepanjang 2011 dan potensial menjadikannya rekor kenaikan beruntun tahunan dalam 11 tahun terakhir, yang akan merupakan rekor kenaikan beruntun terpanjang sejak 1920. Emas ditutup melemah sebesar 1% tertekan progres positif penanganan krisis hutang Amerika yang meredam minat investor pada aset safe haven. Demikian juga harga perak yang turun sebesar 4% setelah sempat membukukan kenaikan tertinggi sejak awal Mei silam di $40.85/troy ounce. Namun demikian diperkirakan kekhawatiran pada kondisi hutang Uni Eropa masih belum berakhir dan saat ini pelaku pasar masih menantikan data Euro zone summit dimana diharapkan akan ada solusi permanen guna menangani krisis hutang kawasan tersebut. Kondisi ini masih berpotensi menyokong laju kinerja Emas untuk menembus level tertinggi berikutnya.

EUR/USD

Uni Eropa juga masih belum menemukan kata sepakat dalam pemberian dana talangan (bailout) kedua untuk Yunani. Perhatian investor dalam beberapa pekan terakhir memang sedang tertuju pada potensi default utang Yunani dan negara-negara Uni Eropa lain seperti Spanyol dan Italia. Kendati demikian kepercayaan investor di Spanyol mendapat sentimen positif dari pasar keuangan pada Selasa kemarin. Hal ini diperlihatkan dari imbal hasil obligasi Italia untuk jangka waktu 10 tahun yang turun menjadi 5,7% dibanding sehari sebelumnya 7%. Sedangkan di Spanyol yield obligasi pemerintahnya melemah sebesar 0,15% menjadi 6,12%. Para pemimpin politik masih menemui jalan buntu dalam memutuskan batas utang yang akan jatuh tempo pada 2 Agustus mendatang. Kekhawatiran investor juga masih dirasakan investor Eropa menjelang konferensi tingkat tinggi (KTT) Uni Eropa di mulai hari Kamis besok.


Market Review Asia


Market Review Asia:

Bursa saham Asia melemah akibat kekhawatiran parlemen AS akan gagal capai kesepakatan untuk naikkan batas utang dan memburuknya krisis Eropa sehingga dapat perlambat pemulihan global. Namun, bagusnya laporan keuangan IBM berhasil dongkrak sektor teknologi sehingga batasi penurunan. Nikkei turun akibat ketidakmampuan pemerintah selesaikan krisis utang AS dan Eropa. Kospi tergelincir akibat kekhawatiran akan dampak krisis utang terhadap sistem keuangan global. Hang Seng menguat akibat naiknya harga komoditas yang pacu reli saham pertambangan. IHSG turun, terkena aksi profit-taking paska reli kencang belakangan ini