Becoming Sophisticated About Risk

Posts tagged “Masih

Analisa Emas


Harga emas masih melakukan konsolidasi di kisaran 1564-1587. Tekanan jangka pendek terlihat naik. Namun tekanan jangka panjang masih ke arah bawah.

Secara umum, harga emas masih mengalami tekanan turun di bawah harga 1587 yang menjadi resisten pentingnya saat ini, meski ada potensi rebound saat ini ke area resisten tersebut. Kenaikan lanjutan ke area 1600 harus menunggu konfirmasi penembusan resisten 1587.

Sementara support terdekat di area 1574. Penembusan support akan membuka jalan ke area support selanjutnya di 1564.


Minyak Bakal Uji Level $90


Kamis, 04 Agustus 2011 09:29 WIB
TODAY’S ANALYSIS COMMODITY

Jika data perekonomian AS terus memburuk, minyak Nymex dapat anjlok ke level $90/barrel, kata kepala komoditi Mizuho

Securities, Takumi Otsuka. Minyak sedikit menguat di awal perdagangan.

“Sentimen masih sangat bearish terkait kondisi perekonomian di Eropa dan AS yang lemah,”  tambahnya. “Fokus pasar pada data perekonomian AS pekan ini.” Angka pengangguran dirilis hari ini dan nonfarm payrolls dirilis besok (05/08), kedua data sangat berpengaruh pada pasar. USD menguat setelah BoJ melakukan intervensi ke dalam pasar mata uang. Hal ini turut menekan minyak meski berdampak kecil dan hanya sesaat, kata Otsuka.

Minyak Nymex bulan September naik 21 sen menjadi $92.14/barrel, Minyak ICE bulan September naik 2 sen menjadi $113.25/barrel.


Investor Buru Safe Haven, Emas Meroket


Kamis, 04 Agustus 2011 10:53 WIB
TODAY’S ANALYSIS COMMODITY

Tindakan investor yang terus memarkir dana tunai ke dalam aset save-haven di tengah kegelisahan sentimen perekonomian makro membuat emas terus melesat. Spot emas di $1,665.70 per troy ons, naik $4.60 dari level penutupan.

Harga berada di bawah rekor tinggi hari Rabu (03/08) di $1,673.19/ons, namun sebagian besar partisipan pasar memperkirakan logam mulia akan terus melambung dalam jangka pendek dan menguji rekor tinggi baru dikarenakan pergolakan ekonomi makro. Deutsche Bank mencatat bahwa emas dapat menembus level $2,000/ons. Data non-farm payrolls AS menjadi data kunci bagi pergerakan emas untuk jangka pendek. Angka yang menurun, mengindikasikan lapangan kerja yang berkurang di negara dengan ekonomi terbesar di dnia. Hal ini akan mendorong emas terus meroket sementara jika angka perekrutan pekerja meningkat dapat menekan pasar.


Commodity Update: Minyak Diprediksi Jatuh


MINYAK
Minyak Masih Berada Di Rangenya

Harga minyak masih dipengaruhi oleh mata uang sementara data perekonomian AS yang lemah membuat minyak sulit untuk terus berada di atas level  $100/barrel, menurut Jim Ritterbusch, pimpinan perusahaan penasehat perdagangan minyak Ritterbusch & Associates. Harga minyak masih bergerak di range $10 selama beberapa pekan terakhir. “Diperkirakan pelemahan  akan menuju ke level $92,” kata Ritterbusch. Minyak Nymex turun $1.66 menjadi $98.44/barrel di hari Kamis, Minyak Brent turun 88 sen menjadi $111.42/barrel setelah dirilisnya indikator perekonomian AS dan aktivitas manufaktur yang mengecewakan. Minyak crude bulan Juni naik 42 sen menjadi $98.86/barrel, sementara kontrak Juli naik 45 sen menjadi $99.38/barrel di Globex.
EMAS
Emas Masih Tertekan
Emas melemah akibat ekspektasi berkurangnya tekanan inflasi yang kurangi permintaan terhadap logam mulia sebagai hedging atas kenaikan inflasi. Presiden Fed of St Louis, James Bullard, katakan bank sentral belum akan mengubah kebijakan moneternya sampai akhir tahun, dan turunnya ekspektasi inflasi kurangi kebutuhan untuk mulai menarik stimulus. “Ekspektasi inflasi sedikit mereda belakangan ini,” ungkap Dan Smith, analis Standard Chartered. “Emas kini tengah cari alasan lain untuk bisa pecahkan rekor tertingginya. Saat ini, emas kekurangan pemicu untuk reli.”

Harga minyak, salah satu faktor inflasi, turun hingga di bawah $100 per barel di sesi New York akibat suramnya outlook permintaan energi dunia. Turunnya harga minyak dapat kurangi tekanan inflasi lebih lanjut. “Emas bergerak searah dengan minyak dan penurunan harga minyak sulitkan pergerakan emas,” papar Frank Lesh, trader FuturePath Trading.

Posted with WordPress for BlackBerry.


BREAKING NEWS JUMAT, 11 MARET 2011


Euro rentan jelang pertemuan Eropa

Euro berhasil sedikit rebound hari ini setelah mencatat kejatuhan harian terbesar dalam sebulan terakhir. Namun, penguatan itu masihlah rentan menjelang pertemuan pejabat zona Euro. Para pemimpin zona Euro akan mengadakan pertemuan hari ini membahas krisis utang. Acara ini merupakan awal sebelum pertemuan Uni Eropa para 24-25 Maret nanti. Hari ini merupakan awal negosiasi untuk mencapai konsensus akhir atau keputusan final mengenai masa depan  Uni Eropa, yang diharapkan tercapai pada pertemuan dua minggu berikutnya.  Salah satu agenda pertemuan hari ini adalah penurunan bunga bailout untuk Yunani dan Irlandia. Jerman dan Perancis menuntut Yunani menjual aset negaranya dan Irlandia menaikkan pajak korporatnya. Masalahnya, tidak ada yang menyukai usulan ini, termasuk negara terdekat seperti Belanda dan Austria.

Kegagalan mencapai terobosan atau indikasi masih terkatung-katungnya penyelesaian, dapat membuat euro melanjutkan koreksinya. Euro kini bergerak di kisaran $1,38, setelah sempat anjlok ke kisaran $1,37 semalam.  Kejatuhan tajam euro terjadi setelah Moody’s Investor Service menurunkan peringkat kredit Spanyol dengan kemungkinan penurunan lanjutan. Moody menurunkan peringkat utang Spanyol menjadi AA2 dari AA1 dengan outlook negatif. Penurunan peringkat Spanyol ini terjadi tidak lama setelah Moody menurunkan peringkat Yunani.  Seperti yang pernah disebutkan, bila isu krisis utang mencuat ke permukaan, dan membenamkan prospek kenaikan suku bunga ECB, Euro terkoreksi. Kini, pasar mempertanyakan, bila isu krisis utang belum dituntaskan, dan ECB benar-benar menaikkan rate-nya, bagaimana dampaknya ke negara kwartet pengutang (Spanyol, Yunani, Irlandia dan Portugal).
Oleh karena itu, penting bagi para pemimpin Eropa untuk mendapatkan solusi komprehensif atasi krisis utang, atau paling tidak mencapai terobosan.

Dollar juga terbantu oleh gejolak di Timur Tengah. Faktor lain yang mendorong risk aversion di pasar adalah berita meningkatnya kekerasan di Arab Saudi, dimana polisi menembakkan peluru karet ke demonstran. Pasar cemas aksi ini bisa memburuk dan mengganggu produksi minyak di negara itu. Apalagi konflik di Libya, yang mengurangi output hingga 70%, semakin memanas. Isu Timur Tengah mendorong mata uang safe haven seperti  dollar, franc dan yen.  Mata uang yang bernasib seperti Euro adalah Sterling dan Aussie. Selain karena faktor risk aversion, sterling tumbang setelah BOE mempertahankan suku bunganya semalam dan tidak memberi sinyal kemungkinan kenaikan. Hal ini mengurangi ekspektasi BOE akan menaikkan rate dalam waktu dekat.
Aussie tumbang setelah data menunjukkan China mencatat defisit perdagangan bulan lalu. Data inflasi China yang lebih buruk dari prediksi.  Pasar akan mencermati data ekonomi AS seperti penjualan ritel dan sentimen konsumen. Dollar tidak akan tumbang selama isu Timur Tengah dan krisis utang masih membebani pasar, Kecuali datanya lebih buruk dari prediksi, yang membuat pasar beralih ke safe haven lain seperti franc dan yen.

GBP/USD

Pound Masih di Zona Merah Setelah Kemarin Tumbang

Pada perdagangan menjelang siang di hari Jumat, Poundsterling masih belum beranjak dari zona merahnya setelah kemarin terperosok hingga ke level rendah 10-hari terhadap USD. Kemarin GBP anjlok setelah Bank of England menahan lagi tingkat suku bunga pada rekor rendah 0,5% sehingga mendorong investor melepas posisi long yang mereka miliki meskipun masih ada ekspektasi kenaikan suku bunga di kalangan pelaku pasar. Pasar berharap BoE akan segera melakukan tindakan dalam beberapa bulan mendatang guna memerangi inflasi yang semakin jauh di atas target. (By monexnews.com)