Becoming Sophisticated About Risk

MANAGEMENT RISK


“Vital Few Trivia Many”: Prinsip yang mengatakan bahwa 20% dari sesuatu itu selalu mendatangkan 80%.

– Pareto Principal

Pengertian Manajemen Resiko

  • Dasar manajemen resiko
  • Pengertian resiko setiap transaksi
  • Pengertian mengenai resiko pasar
  • Risk to reward ratio dan Pareto principle

Manajemen resiko seseorang yang bekerja atau berwirausaha di kawasan strategis, setiap harinya berhadapan dengan kondisi jalanan yang macet. Seseorang tersebut bisa saja yakin dapat sampai di kantor tepat waktu. Namun, tentu kondisi di jalanan tidak ada yang tahu, misalnya pohon tumbang akibat hujan sebelumnya, atau jalanan ditutup atau faktor lain yang dapat menyebabkan terhalangnya perjalanan.

Kemampuan seseorang tersebut dalam mengelola ketidakpastian di jalanan adalah salah satu bentuk manajemen resiko.

Sama halnya dengan dunia finansial. Resiko adalah ketidakpastian yang bakal terjadi dari setiap situasi dan keputusan yang kita ambil. Hanya saja konsekuensi dari manajemen resiko tersebut adalah berkurang atau hilangnya sebagian dana kita.

Manajemen resiko membantu Anda untuk mengenali resiko apa saja yang mungkin dihadapi dan apa saja cara yang perlu dipersiapkan untuk menghadapinya.

Manajeman Resiko penting yang perlu diperhatikan

Dalam trading, manajemen resiko sangat dibutuhkan, karena banyak resiko yang Tentunya banyak jenis resiko yang ada di alam ini yang senantiasa mengintai Anda dalam melakukan aktifitas trading. Dua risiko penting adalah:

1. Manajemen Resiko trading/bertransaksi

Manajemen resiko trading adalah resiko yang Anda ambil ketika menentukan seberapa besar modal dan volume transaksi yang dilibatkan dalam setiap keputusan. Resiko jenis ini sepenuhnya dibawah kontrol Anda.

a. Resiko total equity

Manajemen resiko Profesional biasanya menganjurkan resiko total dibatasi maksimum hanya sampai 20-30%, jika Anda cukup confident, maka Anda bisa menyesuaikannya.

b. Resiko per kali masuk posisi

Setelah Anda menentukan batasan resiko equity, barulah manajemen resiko stoploss dapat ditentukan. Metode untuk menentukan stoploss beraneka ragam. Tapi sebaiknya manajemen resiko anda harus melihatnya dari total equity.

Tabel 1 di bawah memberikan gambaran manajemen resiko, bahwa semakin banyak resiko yang Anda ambil, semakin sedikit transaksi yang dapat dieksekusi. Jika Anda ingin menggunakan 1% dari total equity dalam setiap transaksi, maka Anda memiliki 100 kali kesempatan transaksi. Jika Anda memilih 5% dari total ekuiti, Anda akan memiliki 20 kesempatan. Hal ini perlu di pertimbangkan manajemen resikonya agar Anda dapat menemukan rasio risk reward yang sesuai.

Tabel. 1 Perbandingan resiko per transaksi dan kesempatan

Dalam tabel tersebut, dapat dilihat bahwa semakin besar presentase resiko, maka semakin mengecil jumlah kesempatan yang kita miliki. Banyak pihak, menyarankan manajemen resiko tidak boleh lebih besar dari 2% total ekuiti per transaksi, sehingga walaupun 25 kali kesalahan terjadi berurutan, Anda masih memiliki 50% ekuiti untuk dapat memulihkan kinerja trading.

2. Market risk

Manajemen resiko ini adalah resiko yang sudah dimiliki oleh pasar dengan sendirinya, baik sebelum Anda terlibat didalam maupun sesudah itu. Anda sama sekali tidak dapat melakukan apa-apa terhadap jenis resiko ini, kecuali mengenal menganalisa dan mencari cara mengatasinya.

Setiap instrumen trading memiliki keunikan tersendiri, 3 manajemen resiko terpenting yang harus Anda pertimbangkan adalah:
Perubahan harga dan volatilitas

Yang pertama dan yang paling dasar adalah perubahan harga pasar. Perubahan ini tentunya akan menciptakan manajemen resiko tersendiri bagi aktifitas trading Anda. Saham yang berkapital besar biasanya bergerak lebih stabil dibanding yang berkapital kecil. Forex dan index juga sama, beberapa index dan mata uang bergerak lebih stabil dibanding yang lain.

Volatilitas yang tinggi, terutama jika dibarengi dengan range pergerakan yang besar, dapat memaksa Anda untuk melonggarkan batasan resiko yang sudah Anda tentukan, misalnya manajemen resiko dengan cara menempatkan stop loss yang lebih jauh.

Liquidity risk

Untuk melikuidasi posisi saham, biasanya data Anda akan di input dalam daftar antrian. Jika pasar dalam keadaan turun, dan pembeli sulit ditemukan, Anda mungkin tidak dapat melikuidasi posisi hingga kerugian besar menimpa Anda. Resiko seperti ini juga harus dipertimbangkan dalam manajemen resiko, dan mencari cara untuk mengatasi kerugian yang mungkin timbul tersebut, Anda bisa saja, misalnya, melakukan shot sell (jika memungkinkan) atau melakukan hedging di pasar future atau pasar CFD.

Manajemen resiko likuiditas seperti ini bagi instrumen futures atau derivative lain sangat minim, terutama setelah adanya aktifitas online trading, yang memungkinkan pelaksanaan transaksi secara elektronik.

Risiko leverage dan margin

Resiko leverage dapat diartikan sebagai manajemen resiko yang muncul akibat penggunaan skala modal yang lebih besar dibanding modal yang disetorkan. Misalnya Anda dapat membeli atau menjual suatu instrumen seharga $ 100,000,- dengan hanya menyetorkan jaminan dana sebesar $1,000. Jaminan tersebut bukanlah jumlah maksimum kerugian jika pasar bergerak berlawanan dengan posisi Anda, namun sebagian dari modal total yang Anda setorkan juga turut menanggung resiko tersebut. Hal ini terjadi karena leverage mengandung dana pinjaman dan kita harus membayarnya kepada broker jika transaksi berjalan buruk.

Overnight risk

Untuk manajemen resiko instrumen berjangka, Anda menyimpan posisi overnight. Berita tertentu dapat menyebabkan market untuk bergerak di arah yang diinginkan atau sebaliknya. Terkadang, anda tidak dapat menyimpan order likuidasi ketika market tutup. Sehingga nenyimpan posisi overnight merupakan manajemen resiko yang perlu dipertimbangkan.

Contohnya: untuk Lehman Brothers (LEH). Sehari sebelum pengumuman kebangkrutan, saham LEH menutup pada harga $4.00. Pada hari kebangkrutan, LEH membuka pada harga $0.24. Penurunan ini adalah sebesar 94% dalam sehari. Posisi jual akan menghasilkan keuntungan luar biasa pada hari itu, sebaliknya posisi beli akan menggerus keseluruhan modal.

Asumsi manajemen resiko yang perlu diperhatikan

Dalam menyusun manajemen resiko, ada tiga hal yang perlu Anda pertimbangkan sebagai bahan dasar pengelolaan resiko Anda, yang pertama adalah rasio risk to reward, kedua adalah rasio win loss dan yang ketiga adalah prinsip Pareto.

1. Risk to Reward Ratio

Adalah manajemen resiko rasio yang digunakan untuk membandingkan potensi keuntungan dengan resiko dalam setiap pengambilan keputusan transaksi. Risk reward ratio dalam hal ini berbeda dengan yang umumnya dipahami, dalam dunia trading istilah tersebut digunakan sangat sederhana sebagai sebuah gambaran tentang manajemen resiko yang Anda akan ambil untuk mendapatkan sejumlah tertentu keuntungan.

Misalnya jika Anda memiliki rasio risk reward 5:1, bukan berarti bahwa Anda secara nyata menerima keuntungan 5 kali lebih besar dibanding resiko. Sekali lagi bahwa hal ini adalah rasio bukan fakta.

Untuk menyusun rasio risk reward bagi setiap orang akan berbeda-beda dan bersifat subjektif. Investor bermodal besar akan memiliki tingkat penerimaan terhadap resiko lebih besar dibanding pemodal kecil. Faktor personal lain manajemen resiko, seperti tujuan, karakter dan usia juga berpengaruh dalam menyusun rasio.

Untuk menyesuaikan rasio tersebut ke dalam aktifitas transaksi manajemen resiko juga tidak terlalu rumit, ada banyak cara yang dapat dilakukan, misalnya dengan merubah komposisi modal, stop loss atau bahkan dengan merubah exit point.

Menyusun rasio anda sendiri

Penyusunan manajemen resiko reward tidak perlu rumit, bahkan sangat sederhana . Anda hanya perlu menjawab dua pertanyaan di bawah ini;

  1. Berapa jumlah keuntungan yang Anda inginkan dari setiap transaksi? Berapa jumlah dana yang rela Anda tempatkan ke dalam resiko untuk mendapatkan keuntungan tersebut?
  2. Setelah Anda menjawabnya, bagilah jumlah keuntungan tersebut terhadap jumlah resiko yang Anda relakan, dan hasilnya Anda telah mendapatkan rasio risk reward Anda sendiri.

2. Win Loss Ratio

Rasio ini bermaksud mengukur seberapa besar presentase manajemen resiko kemenangan berbanding kerugian yang dihasilkan oleh sistem trading Anda.

Untuk mendapatkannya, Anda tentunya harus memiliki sistem manajemen resiko terlebih dahulu, susunlah sistem tersebut dan uji hasilnya baik dalam bentuk back testing ataupun forward testing dengan menggunakan demo account.

Anda juga dapat melakukannya dengan test visual melalui grafik jika itu mudah dilakukan. Setelah itu, catatlah hasil berapa kali sistem tersebut menghasilkan keuntungan dan berapa kali menghasilkan kegagalan. Dengan demikian manajemen resiko Anda telah mendapatkan win loss ratio.

3. Pareto Principle

“Vital few and trivial many”. Prinsip Pareto mengatakan bahwa 20% dari sesuatu itu selalu mendatangkan hasil 80%. Atau dengan kata lain, 80% hasil diperoleh dari 20% aktifitas, dan 20% dari hasil selalu diperoleh dari 80% aktifitas. Dalam artian trading, profit yang efektif itu datang hanya dari sebagian kecil (20%) aktifitas transaksi Anda.

Anda tidak harus mengadopsi angka prinsip ini secara persis, yang terpenting yang harus kita pahami adalah bahwa kebanyakan dari aktifitas trading biasanya hanya menyumbang sebagian kecil bagi pertumbuhan modal kita.

Sebagai contoh manajemen resiko, katakanlah sebuah metode memiliki probabilitas 60% kekalahan dan 40% kemenangan. Prinsip diatas dapat berjalan seperti ilustrasi dibawah;

10 Transaksi EUR/USD; setiap transaksi memiliki SL 50 poin dan TP 100. 6 dari transaksi tersebut terkena stoploss dan menghasilkan kerugian, 4 lainnya menghasilkan keuntungan.

  • 6 Transaksi Loss x 50 poin (pips) x $10/poin =- $3,000
  • 4 Transaksi Profit x 100 poin x $10/poin = +$4,000
  • Net Profit/ Loss = +$1,000

Artinya bahwa dengan mengelola manajemen resiko trading Anda, metode yang buruk sekalipun masih dapat Anda manfaatkan untuk menghasilkan keuntungan.

Review

  • Ketika trading, hal yang perlu Anda perhatikan dalam manajemen resiko adalah seberapa besar total kekayaan Anda yang siap Anda tempatkan ke dalam resiko. (Saran pada umumnya berkisar antara 20¬% dan 30%..
  • Hal lain yang perlu diperharikan ketika trading adalah manajemen resiko pergerakan harga, volatilitas, resiko margin dan juga resiko untuk posisi overnight
  • Rasio risk to reward akan memberikan perbandingan manajemen resiko yang diambil terhadap profit yang dihasilkan.

WIN LOSS RATIO = 40:60

Katakanlah kita memiliki 10 transaksingan aturan sebagai berikut:

Volume           : 1 lot/transaksi

Stop Loss        : 40 point

Target 1           : 50 point

Target 2           : 100point

Equity              : $ 10,000

1 minggu 10 transaksi EUR/USD; setiap transaksi memiliki SL(Stop Loss) 40 point, TP (Taking Profit) 50 dan 100 point, 5 diantaranya terkena stoploss, 3 menghasilkan profit kecil dan 2 menghasilkan profit lebih. Katakan equity awal: $ 10,000, dan jumlah lot per transaksi 1.

5 transaksi loss x 40 point x $ 10/point      = -&2,000

3 transaksi profit x 50 point x $10/point   = +$1,500

2 transaksi profit x 100 point x $10/point= +$2,000

Net Profit/Loss                                                       = +$1,500

Total Eguity = $11,500

TRANSAKSI AKAN MENGHASILKAN:

6 transaksi loss x 40 point x $10/poin         = $2,400

3 transaksi profit x 50 point x $10/point   = +$1,500

1 transaksi profit x 100 point x $10/point  = +$1,000

Net Profit/Loss                                                              = +$100

Total Equity                                                                    = $10,100

ATAU HASIL EKSTRIM :

1. Terburuk      = -$400

2. Middle 1         = $600

3. Middle 2        = $1,100

4. Terbaik          = $1,600

WORST :

6 tansaksi loss x 40 point x $10/poin  = -$2,400

As many technical analysts have noted in the past few months, the Bearish case rests on a technical formation called “head and shoulders.” I’ve indicated the left and right shoulders and the “head” — the market top in late April-early May.

Technically, a head and shoulders is a topping pattern, meaning that it typically marks a major market top. In theory, now that price has formed the completing right shoulder, the market should fall significantly from here. This is basic technical evidence to support the Bearish “crash” scenario.

More Bearish Evidence: The Death Cross

But there is other Bearish evidence as well. The blue 50-day moving average line crossed below the red 200-day moving average, a Bearish signal known as “the death cross” because it shows that market momentum is declining.

Even more telling, price has fallen below the critical 200-day moving average level. Repeated attempts to regain that level have failed after a few days, a sign of weakness.

The market has also fallen under the shorter-term trend lines of the 50-day and 20-day moving averages — more evidence of a market in decline. The range-bound trading since early May is thus seen as a period of what is known as distribution, another word for widespread selling by big players.

Key indicators are also signaling a weakened market. The moving average convergence-divergence (MACD) indicator has slipped below the neutral line, marking a bearish trend, and the stochastic has fallen from overbought to oversold, reflecting weakening demand for stocks.

There’s Also a Little-Noticed Bullish Case

The Bullish case rests on a standard technical pattern that few commentators seem have discerned: a “reverse head and shoulders” in which the low point becomes the head and higher levels form the left and right shoulders.

While this reverse head and shoulders isn’t very symmetrical, technical analysts refer to this type of action as a “complex” head and shoulders, in which choppy price action is resolved into a general pattern with these key characteristics: The “head” is lower than the left shoulder (previous low), and the right shoulder is higher than both the “head” and the left shoulder.

In other words, the “head” marks a definitive bottom, and the right shoulder is evidence of a new uptrend.

The classic definition of an uptrend is simple: higher highs and higher lows. Both are present in the chart. While Bears see a flat trading range, Bulls see a trading range with an upward bias.

Could Be Setting Up a Bullish Cross

Bulls concede that the moving average convergence-divergence (MACD) line is below the neutral level, but they note that it’s flattening, which could be setting up a very bullish cross.

Even more telling for the Bulls is the positive divergence in MACD: even as price has traded up and down in a wide range, MACD is working its way higher. This is strong evidence of a market that is slowly working its way into a Bullish stance. While the stochastic has fallen into oversold levels, the lines have begun to rise, and there is some modest positive divergence.

Another source of technical evidence is the VIX or “fear index,” which I have reported on several times this year.

Lastly, many observers use sentiment indicators to help identify trends. Right now, sentiment is generally bearish. Contrarians view that as bullish.

So is the market about to crash or is it setting up a new uptrend? There is evidence for both points of view, and every investor must weigh all the evidence and decide where the preponderance lies.

Tagged: Bearish case, bullish and bearish cases for stocks, bullish case, MACD, stochastics, Technical Analysis, ETC.

Indikator Teknikal: Average Directional Movement (ADX)

Average Directional Index Movement (ADX), yang dikembangkan oleh J. Welles Wilder, adalah indikator yang digunakan untuk mengetahui kapan pasar trending, seberapa kuat atau lemah trend itu dan kapan tren kemungkinan dimulai atau berakhir.

Indikator ini hanya menghitung kekuatan tren, terlepas naik atau turun. Indikator ini memungkinkan menganalisis kecenderungan pasar dan membuat keputusan perdagangan di pasar Forex.

ADX biasanya terlampir dalam grafik beriringan dengan dua garis yang disebut dengan Directional Movement Indicators (DMI). ADX sendiri merupakan rata-rata dari kedua garis tersebut.

Pertama adalah garis +D, yang mencerminkan seberapa kuat atau lemah uptrend dalam pasar. Kedua adalah garis –D, yang menggambarkan seberapa kuat atau lemah downtrend. Garis ADX merupakan gabungan dari +D dan –D, namun tidak menunjukan apakah pasar sedang uptrend atau downtrend, hanya kekuatan dari keseluruhan trend.

Seperti yang telah disebutkan, ADX mengukur kekuatan suatu trend. Dalam pengukurannya, ketiga garis di atas bergerak dalam rentang 0 dan 100. Namun,  perancangnya menetapkan 60 dan 20 sebagai batas ekstrim. Bila garis ADX bergerak di atas 40 dan terus menanjak, mengindikasikan bahwa tren yang sedang berjalan cukup kuat, terlepas uptrend atau downtrend. Bila garis itu bergerak di bawah 20, maka mengindikasikan trend lemah dan pasar dalam kondisi ranging.

Contoh indikator ADX

Karena ADX mengukur kekuatan trend, maka trader menggunakan indikator ini sebagai konfirmasi apakah pasar sedang dalam trend, dan menghindari periode ranging dalam pasar, kondisi yang sulit untuk mendapatkan profit. Selain itu, dalam situasi ketika garis ADX bergerak di bawah 20, perancang menyarankan tidak trading trend based strategi ketika garis ADX di bawah kedua garis +D dan –D.

Contoh ketika garis ADX di bawah +D dan –D

Pendekatan lain yang digunakan trader adalah mengidentifikasi potensi awal trend baru dalam pasar. Caranya adalah memantau pergerakan garis ADX dari bawah 20 ke atas sebagai sinyal pasar sedang menuju trend baru. Semakin lama pasar ranging, semakin besar bobot yang diberikan trader ke sinyal ini.

Contoh sinyal perubahan trend dalam ADX

Indikator ini juga bisa digunakan sebagai sinyal trend reversal. Ketika garis ADX bergerak di atas +D dan –D kemudian bergerak ke bawah, maka ini sering dijadikan sinyal perubahan trend.

Contoh sinyal perubahan trend dalam ADX

Pendekatan terakhir yang digunakan trader dalam ADX adalah crossover. Ketika garis +D menembus ke atas garis –D, menandakan bahwa pembeli lebih kuat dari penjual, maka ini menjadi peluang beli. Ketika garis +D menembus ke bawah garis –D, maka mengindikasikan penjual lebih kuat dari pembeli, maka ini menjadi peluang jual.

Contoh Crossover dalam ADX

MOVING AVERAGE 2 : Trading Menggunakan Moving Average

Sebagai Lagging Indicator, Moving Average cenderung baik dalam mengidentifikasi dan mengikuti trend, namun kurang baik dalam ranging market. Karena ini, trader sering menggunakannya untuk trend trading dan mengidentifikasi area support dan resistance, yang dapat menunjukan keberlanjutan atau pembalikan tren.

Trader biasanya menggunakan Moving Average untuk mengidentifikasi trend lalu trading mengikuti tren tersebut.  Meski trader cenderung menggunakan Moving Average dengan teknik lainnya yang sudah pernah kita pelajari sebelumnya dan akan pelajari nanti, cara paling umum dalam menggunakan Moving Average tersendiri adalah beli ketika harga bergerak di atas garis Moving Average dan jual ketika harga bergerak bawah garis itu. Untuk konfirmasi, trader biasanya menunggu harga close di atas garis Moving average sebelum masuk posisi long dan closing di bawah garis itu sebelum masuk posisi short.

Contoh trading menggunakan Moving Average

Cara kedua menggunakan Moving Average adalah dengan mengidentifikasi support dan resistance kemudian melakukan eksekusi ketika harga menembus level tersebut, menunggu potensi reversal tren. Ketika harga menunjukan kedekatan dengan garis Moving Average dengan menguji garis Moving Average beberapa kali, lalu menembus level itu, trader melihat ini sebagai tanda tren mulai berbalik dan bersiap mengambil posisi yang sesuai.

Contoh trading menggunakan support dan resistance Moving Average

Cara terakhir yang digunakan trader adalah dengan memasukan Moving Average berperiode panjang dan periode pendek dalam grafik dan trading ketika kedua garis bersinggungan (cross). Caranya adalah mengambil posisi long ketika garis MA berperiode lebih pendek menembus garis MA berperiode lebih panjang dari bawah dan mengambil posisi jual ketika garis MA panjang memotong garis MA pendek dari atas.

Contoh Cross dalam Moving Average